Pengumpan RSS

Speed Up Part 1

Posted on

 

Author : Savacalosa

Casts :

  • Ahn Hyowon (You)
  • Shim Changmin

Support Cast : Other TVXQ members

Genre : AU, Romance, Action

Rating : General

P.S : Saya ga mau banyak omong, cuma pengen bilang, silahkan baca ff action gagal ini >.< happy reading~

 

NO SILENT READER PLEASE

Read the rest of this entry

Cactus

poster cr : elf4kimchi@mellowchicken.wp.com

Sekali lagi gadis itu memandangi ponselnya. “Satu bulan ya? Haaaah” desahnya sambil menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi.

Tok Tok Tok

Ia menolehkan kepalanya dengan malas ke arah kaca yang ada di sampingnya.

“KYAAAAA”

“Hahahahahahahhahahahahaha, ini aku, noona, jangan kaget begitu dong”. Seorang pria segera menjauhkan wajah yang tadinya ia tempelkan ke kaca jendela sebuah cafe sambil memegang perutnya menahan tawa. Ia lalu berjalan ke pintu masuk cafe tersebut dan melambaikan tangannya. Read the rest of this entry

My Friend’s Fiance

Gyuri menatap dirinya sendiri di cermin besar yang berdiri di hadapannya. Jaket Burberry mahal milik Nicole terpasang pas di tubuh mungilnya. Disampingnya, Nicole sedang tersenyum puas. Dengan santai Nicole mengulaskan make up tipis di wajah Gyuri, membuat wajah pucat Gyuri sedikit berwarna. Begitu Nicole sudah selesai menyapukan berbagai peralatan make up yang bahkan Gyuri sendiri tidak tahu apa saja namanya, Gyuri tersenyum sendiri. “Wah, ternyata aku tidak kalah darimu ya kalau berdandan.” Read the rest of this entry

I’m Sorry, Mr

“Yah, kau memang terlihat tampan di situ. Hanya saja, kau tahu… Foto itu jadi terlihat seperti iklan pakaian dalam,”

“Hahahaha, tumben kau memujiku tampan. Yah, kalau soal pakaian aku tidak bisa protes. SM yang sudah menetukannya. Oh iya, mumpung aku belum sibuk bagaimana kalau kita makan malam di tempat biasa?” jawab orang yang ada di seberang.

Soohwa langsung bangun dan duduk bersila di tempat tidur dengan selimut yang masih membungkus tubuhnya. Ia bisa menangkap Jira sedang memandangnya dengan tatapan heran, ia membalas tatapan adiknya itu dengan tatapan yang menyeramkan sehingga Jira buru-buru mengalihkan pandangannya. Read the rest of this entry

Love Tester

Posted on

“What? Yeah, I’m right in front of my house, now…Hmm? I’ve just got home from you-know-what with you-know-who. How are you there? What are you doing? Pardon me? Gym? Kevin Woo worked out in a gym? Hahahahahaha, oh my God!!! Ok, don’t forget to bring me something! Hmmm, I think Terada Takuya is enough for me, hahahaha….Ok, bye!!!”

Read the rest of this entry

You Are Not My Girl Part 2

Posted on

Begitu Siwon membuka matanya, ia melihat semua member SJ kecuali Donghae sedang berdiri di sekeliling ranjangnya. “Aku dimana, Hyung? Kenapa kalian semua berkumpul di sini?” tanya Siwon pada Leeteuk.

Leeteuk segera duduk di sampingnya. Wajahnya tidak terlihat ceria seperti biasanya. “Gwenchana? Kau baru saja kecelakaan Siwonnie.”

“Apa? Aku baru saja kecelakaan?” Tiba-tiba semua ingatan beberapa waktu lalu berkelebat di pikirannya. Saat ia sedang berdebat dengan Soohwa di mobilnya sebelum sebuah guncangan akhirnya membuatnya kehilangan kesadaran. Kini ia mulai merasakan sakit akibat memar yang ada di sekujur tubuhnya.

“Untung kau hanya mengalami memar-memar, tidak ada luka serius. Berita ini juga langsung ditutupi oleh manajemen kita agar kau tidak ketahuan sedang berkencan,” kata Heechul tiba-tiba.

“Bagaimana keadaan Soohwa sekarang?”

“Ah, dia…” Belum sempat melanjutkan kata-katanya, mulut Ryeowook langsung dibekap oleh Eunhyuk.

“Dia tidak apa-apa kok, kau tenang saja,” sahut Eunhyuk sambil memaksakan tawa.

“Aku tahu kau berbohong, Lee Hyukjae. Tolong katakan padaku yang sebenarnya,” kata Siwon sinis.

Kyuhyun langsung mengibaskan tangannya. “Lebih baik kau beristirahat sampai benar-benar sembuh, Hyung. Jangan tunda schedule mu lebih banyak lagi, kasihan Seunghwan Hyung yang repot mengatur ulang schedule mu karena kecelakaan ini.”

“Aku janji aku pasti akan beristirahat total. Sekarang aku tanya, bagaimana keadaan Soohwa. Tolong katakan dengan jujur.”

“Dia sedang koma, kepalanya mengalami benturan keras. Menurut dokter…”
Tanpa menunggu Leeteuk menyelesaikan perkataannya, Siwon langsung turun dari ranjangnya dan mengguncang bahu Leeteuk. “Dimana dia sekarang, Hyung?”

Leeteuk menarik napas dalam-dalam. “Kau tenang dulu. Dokter sedang mengusahakan yang terbaik untuknya.”

Siwon memandang Leeteuk dalam-dalam dan melirik member SJ yang lain. “Soohwa, dimana dia sekarang? Tolong jawab aku, jebal.”

“Di ruang ICU,” jawab Kyuhyun tanpa melirik sedikitpun kearah Siwon.
Siwon langsung berlari dan meninggalkan member SJ yang langsung menatap tajam ke arah Kyuhyun.

**********

“How is she? Apa ia sudah sadar?” tanya Siwon begitu ia melihat Jira yang sedang duduk di depan ruang ICU dengan Donghae disampingnya.

Jira menggeleng. “Not yet. Detak jantungnya juga belum normal. What’s wrong with you, Oppa? Menyetir yang benar dong! Lihat sekarang keadaan Onnie jadi bagaimana! Aish, luka-luka di tubuh dan wajahmu itu tidak sebanding dengan yang dialami Onnie! Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan memaafkanmu! Dasar jelek! I hate you!”

Siwon hanya tertunduk mendengarnya. “Go on, teruskan, aku memang pantas menerimanya.” Ia terdiam sejenak lalu melanjutkan. “Apa keadannya separah itu?”

Jira mengangguk dan berkata, “Yap. Kudengar dari dokter tadi, kemungkinan Onnie bisa bertahan hidup hanya 50%. Benturan di kepalanya sangat keras. Kepalanya mengalami pendarahan hebat.”

“Sudah, sudah, kita di rumah sakit sekarang. Jangan ribut dong,” kata Donghae pada Jira dan Siwon.

Siwon memandang ke ruangan berkaca dimana Soohwa dan seorang gadis yang sudah tidak asing lagi sedang terbaring di dalamnya. “Siapa gadis itu?” tanya Siwon pelan.

“Kalau tidak salah, gadis itu adalah pengemudi mobil yang menabrak mobil kalian,” jawab Donghae.

“Oh, jadi dia. Bagaimana dengannya? Apa keadannya lebih parah dari Soohwa?” kata Siwon sambil menatap tajam gadis itu.

“Kata dokter sih begitu, paru-parunya tergores karena tulang rusuknya banyak yang patah. Memangnya kenapa? Kau mengenalnya?”.

Dengan mimik wajah serius Siwon memandang sahabatnya itu. “Donghae ya…Gadis itu adalah gadis yang sering kuceritakan padamu,”

“Ah, dia stalker yang sering mengikutimu kemana-mana itu?”

“Ne. Saat kecelakaan itu juga, aku sedang lari darinya, aku tidak mau dia menyebarkan fotoku dengan Soohwa ke internet.”

Tiba-tiba Jira memukul pelan bahu Siwon. “Mau sampai kapan kau di sini hah? Tadi kau lari untuk menemui Onnie kan? Sudah sana masuk!”

Siwon menelan ludah. Ia belum siap melihat keadaan Soohwa dari dekat. Dengan langkah gontai ia masuk dan memakai pakaian khusus yang sudah disediakan dan duduk di samping ranjang tempat Soohwa berbaring. “Hi, Ms. What are you doing here? Wake up please. Jangan marah dong! Aku minta maaf karena sudah berkata kasar padamu kemarin. Kumohon bangunlah. Aku tidak membencimu. Kau tahu aku orang bodoh yang tidak pernah bisa membencimu. Please, wake up!”. Ia memandang Soohwa dalam-dalam “Apa pertanyaanmu sewaktu di café itu pertanda? Aish, aku lupa belum menjawabnya ya, I’m gonna be okay without you, Ms. I’m okay, but not my heart.”

**********

Ini adalah kali ketiga dalam seminggu terakhir ia datang ke ruangan kaca dimana gadisnya tengah terbaring lemah. “Annyeong! Mian baru bisa mengunjungimu sekarang. I’m busy, you know. The last week of shooting started.” Ia menepuk tangan gadis itu. “You’ll watch my drama right? So, wake up please,” kata Siwon putus asa.

Tiba-tiba ia merasa tangan Soohwa bergerak.

“Ms?”

Kelopak mata gadis itu bergerak, lalu perlahan-lahan matanya terbuka.
Siwon segera menekan tombol merah yang berada di atas ranjang Soohwa.

“Akhirnya kau sadar juga!!” serunya.

“Oppa…” panggil Soohwa lemah.

“Oppa?”

**********

“Oppa, kau datang? Bukannya kau sedang sibuk?” tanya Soohwa sambil meletakkan majalah yang baru dibacanya.

Siwon tersenyum dan duduk di samping ranjang Soohwa. “Yah, walau aku sibuk, memangnya aku tidak boleh menjenguk pacarku sendiri?”

Soohwa menatap Siwon. “Jadi benar kalau gadis ini pacarmu?”

Siwon mengerutkan dahi. “Apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu? Aneh sekali. Tentu saja gadis yang ada di hadapanku ini adalah pacarku.

“Kau aneh sekali sejak sadar dari koma, Ms. Apa kau benar-benar Kang Soohwa?”

“Tentu saja aku benar-benar Soohwa…”

“Kalau begitu kenapa kau masih menanyakan hal aneh seperti tadi? Lalu sejak kapan kau jadi memanggilku Oppa, hah? Bukannya dulu kau yang bersikeras menolak memanggilku Oppa? Kau lebih suka memanggilku Mr kan?” Siwon menjelaskan. “Jadi, wajar saja kalau aku meragukan kalau kau adalah Soohwa. Lagipula, seingatku Soohwa tidak pernah sebahagia ini kalau aku datang.”

“Oh, itu, mungkin karena….”

“Hello, Soohwa! Sorry, aku baru bisa menjengukmu sekarang. Eh, Hyung, annyeong!!!”. Tiba-tiba seorang pria masuk dan duduk di kursi yang ada di samping Siwon. “I bring some fruits for you,” kata Kevin sambil menunjukkan keranjang buah yang ia bawa. “Mau aku kupaskan apel?” tanyanya lagi.

“Nuguya?” tanya Soohwa.

“Kau melupakanku? Sahabatmu sejak berumur 3 tahun? Orang yang selalu kau anggap kakak?” tanya Kevin tidak percaya.”

“Ah,kau, maaf. Aku sempat tidak mengenalmu tadi, hehehe…” jawab Soohwa.

“Yah, mungkin karena potongan rambut baru ini aku jadi agak berubah. Jadi, kau mau aku kupaskan apel?”

“Oppa, kupaskan apel itu untukku,” pinta Soohwa pada Siwon.

Kevin memandang Siwon dengan tatapan aneh.

Siwon mengernyitkan dahinya. “Bukankah kau tidak suka apel? Dan lagi, biasanya kau…”

“Ah, itu…Memang aku tidak suka apel, tapi kan…Ah, sudahlah, kupaskan saja satu untukku. Jebal.”

“Ada apa dengannya, Hyung?” bisik Kevin.

Siwon menengadah dan menatap mata Soohwa dalam-dalam. “Aku tidak tahu. Sikapnya memang agak aneh belakangan ini.”

**********

Tiba-tiba ponsel Siwon berdering. Siwon menyingkir sebentar dari member SJ lain yang sedang rekaman album ke lima. Ia buru-buru menjawab dan raut wajahnya berubah. “Yobseyo, Soohwa? Kau sudah di depan gedung SM? Ne, tunggu aku lima menit lagi.” Ia menyimpan kembali ponselnya di saku celana. “Aku pergi dulu ya, Hyung. 10 menit lagi aku akan kembali.”

Begitu keluar gedung SM, Siwon melihat Soohwa sedang berdiri melamun di salah satu sudut gedung. Ia terbelalak melihat penampilan Soohwa yang begitu berbeda, dress Egoist hitam putih panjang, sandal hitam dengan hiasan Kristal, dan yang paling menarik perhatiannya adalah tas Prada hitam yang menggantung di bahu Soohwa. “Kau Soohwa bukan, sih?” tanya Siwon begitu ia sudah berdiri di samping Soohwa.

“Kau sedang rekaman album baru ya, Oppa? Mian ya kalau aku tiba-tiba memintamu bertemu begini. Bogoshippo,” kata Soohwa sambil tiba-tiba memeluk Siwon.

Siwon benar-benar tidak yakin kalau orang yang dihadapannya ini adalah Soohwa. “Ya! Lepaskan, banyak orang melihat kita!”

“Oppa, mian kalau aku tiba-tiba bersikap aneh begini.”

Siwon mengusap-usap dagu dan memikirkan segala kemungkinan yang menyebabkan gadis di hadapannya bisa berubah. Kali ini, ia memutuskan untuk mengikuti dulu kemauan gadis yang ada di hadapannya. Ia mengambil ponselnya yang ada di saku celana dan menekan beberapa tombol. “Hyung, sepertinya aku ada urusan. Tidak bisa kembali dalam sepuluh menit. Tapi, aku usahakan kembali secepatnya.”

“Nah, sekarang kau mau kemana?”

“Terserah, asal sama Oppa, kemana saja aku mau,” jawab Soohwa polos.

Siwon kembali memandang Soohwa dengan tatapan heran. “Ngomong-ngomong, kemana koleksi Guess mu? Tumben pakai tas Prada.”

“Aku tidak suka Guess. Semua tasnya terkesan kampungan. Aku lebih suka Prada, Oppa.”

**********

Siwon terdiam di salah satu bangku restoran italia yang dipilih Soohwa. Ia masih memikirkan semua tingkah aneh yang dilakukan Soohwa hari ini.

Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Siwon menolehkan kepalanya, sosok lelaki yang sudah dikenalnya.

“Annyeong, Hyung!” sapa orang itu dengan senyum khasnya.

Siwon membalas senyum orang itu. “Annyeong, Kevin,” sapanya singkat.
“Kau sendirian di sini?” tanya Kevin.

“Nope, aku ke sini bersama Soohwa. But she’s in the toilet now,” jawab Siwon. “Kau sendiri?”

“Yup, just like what you see, Hyung. Eh, tumben kalian makan di sini. Bukannya kalian biasanya makan di waffle house yang menyatu dengan bookstore itu?” tanya Kevin lagi.

“Aku juga tidak tahu. Biasanya selain tempat itu, ia selalu memilih makan di restoran Jepang,” jawab Siwon asal. “Oh iya, kau gabung saja dengan kami di sini.”

Kevin mendongakkan kepalanya dan tersenyum. Kemudian ia menggelengkan kepalanya. ”No, thanks. She’s different, Hyung. I don’t even know who she is now. You know what, I’ve been trying to text her for a few days and there are no reply at all from her. I think, I’ve done something that made her mad at me. Dia tidak akan suka kalau aku mengganggu acara kalian sekarang.”

Benar saja, tak sampai satu detik kemudian Soohwa datang dan mengerucutkan bibirnya begitu melihat Kevin. “Sedang apa kau disini?” tanyanya ketus.

“Kau? Kau benar-benar Soohwa?” Mata Kevin terbelalak begitu melihat penampilan Soohwa.

“Ya ini aku. Kau kenapa sih? Sekarang aku tanya lagi, sedang apa kau disini?” ujar Soohwa sewot.

“Tenang saja, aku akan segera pergi. Aku tidak akan mengganggu acara kalian,” kata Kevin sambil mengerling ke arah Siwon.

Siwon mengerutkan keningnya. “Apa Kevin pernah berbuat sesuatu yang membuatmu marah?”

“Aniya, aku hanya tidak ingin acara kita diganggu, Oppa,” kata Soohwa pelan.

“Bagaimana kau bisa bersikap begitu padanya, kau kan….”

“Aku apa?”

“Ah, lupakan.”

You’re Not My Girl Part 1

Posted on

Sudah hampir satu bulan berlalu sejak Soohwa terakhir kali bertemu dan berbicara dengan pria yang sedang sibuk menyetir di sampingnya sekarang. Entah kenapa Soohwa merasa canggung untuk memulai pembicaraan dengan pria tersebut, hal yang jarang terjadi pada gadis overaktif sepertinya. Ia ingin bertanya apa kabar tapi ia pikir kata-kata tersebut terlalu basi dan terlihat dibuat-buat. Ia ingin bertanya apa saja kegiatan pria itu sekarang, ia sendiri sudah hapal dengan berbagai kesibukan pria itu, “How can I be so silly like this,” pikirnya.

Pria itu menjalankan mobilnya tanpa tujuan sejak tadi. Ia bingung menentukan tempat yang dituju. Sudah lama ia ingin menghabiskan waktu dengan gadisnya, untuk itu ia merencakan sesuatu yang special untuk hari ini. Sayang, karena terlalu senang akhirnya mendapat waktu luang, ia malah lupa merencanakan tujuan mereka hari ini. Akhirnya ia menghentikan mobilnya di tempat favorit mereka berdua, sebuah café yang menyediakan waffle terlezat-makanan favoritnya- sekaligus sebuah toko buku yang bisa dibilang lumayan lengkap-surga dunia bagi gadisnya.

“Why do we stop here?” tanya Soohwa.

“What’s wrong with this place? Kau tidak suka?”

Soohwa menggeleng-geleng dan merapikan pakaian yang dikenakannya. “Aku sudah tidak waras kalau aku membenci tempat ini. Tapi tunggu dulu, kau yakin mau ke sini? Sekarang masih siang dan yah, banyak fansmu yang berkeliaran.”

“Habis aku bingung mau kemana lagi. Kalau soal itu, tenang saja, aku bawa kacamata hitam, masker, dan topi andalanku,” kata pria itu sambil mengambil semua barang yang ia sebutkan tadi dari jok belakang mobilnya. “Kau sendiri yakin tidak malu dengan penampilanmu yang asal begitu?”

Soohwa mengerucutkan bibirnya sambil memandang penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tanktop putih dengan suspender hitam dipadu dengan celana khaki dan Jeffrey Campbell shoes putih, ditambah dengan tangan dari merek favoritnya, Guess. “Hmmm, there is nothing wrong. Kau seperti baru mengenalku saja. Gaya berpakaianku kan memang asal begini, jangan bandingkan dengan gaya artis-artis kenalanmu, Mr. Choi.”

“Yah, ternyata keajaiban memang tidak akan datang. Sifat cuekmu sepertinya tidak akan pernah hilang ya,” kata Siwon sambil keluar dari mobilnya.

Begitu turun dari mobil Soohwa langsung berjalan dengan kecepatan penuh masuk ke dalam tempat itu dan berhenti di salah satu rak buku. Sesekali ia mengambil buku yang kelihatannya menarik. Buku-buku itu ia dekap erat-erat di dadanya seakan-akan buku-buku itu adalah barang berharga yang harganya jutaan.

Siwon melangkah dengan santai ke café yang masih dalam satu area dengan toko buku itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Soohwa. Ruangan bernuansa coklat dengan meja dan kursi yang terbuat dari kayu dengan aroma kopi dan waffle yang khas itu memang selalu bisa membuatnya nyaman menghabiskan waktu berlama-lama. Setelah memesan waffle dengan sirup maple dan sebuah espresso untuknya, dan juga waffle dengan es krim coklat dan ice cappuccino untuk Soohwa pada salah seorang pelayan, ia membuka-buka majalah yang memang disediakan oleh café itu.

Tiba-tiba satu kantong plastik besar yang penuh dengan novel dan sejenisnya diletakkan dengan kasar oleh Soohwa di atas meja. Gadis itu tersenyum kecil dan segera menyantap wafflenya. Tak sampai lima menit waffle itu sudah berpindah sepenuhnya ke perut gadis itu. Dengan perlahan ia membersihkan mulutnya yang belepotan dengan es krim coklat menggunakan tisu. “Ah, thank you so much, Mr. You’ll pay for it, right? Uang jajanku bulan ini sudah habis karena membeli semua novel itu,”kata Soohwa.

Siwon menghembuskan napas panjang. Ia tidak menyangka ia bisa jatuh cinta pada gadis di hadapannya sekarang yang berbeda jauh dari tipe idealnya yang sering ia sebutkan di media. “Dear heart, can you stop loving her?” kata Siwon dalam hati. Tentu saja jawabannya tidak. Entah apa yang ada di dalam diri gadis itu tapi Siwon merasa hanya gadis itu yang bisa membuatnya jatuh cinta. Dia menarik piring berisi waffle di hadapannya dan mulai memakannya. “Cepat sekali kau makan. Lihat aku, aku bahkan belum menyentuh waffle ku.”

Soohwa hanya menjawabnya dengan senyuman dan menarik kantong plastic besar di atas meja lalu mengeluarkan semua novel yang dibelinya tadi.
“Kau beli novel apa saja?”tanya Siwon dengan mulut penuh. “Oh my God, bahkan sekarang aku mulai tertular virusnya berbicara dengan mulut penuh,” pikir Siwon.

Soohwa mendongak sebentar menatap Siwon. “Banyak. Aku capek menyebutkannya satu persatu, tapi ada satu novel yang benar-benar menarik perhatianku.”

Siwon menjulurkan lehernya, penasaran dengan novel yang akan ditunjukkan Soohwa.

Begitu menemukan novel yang dicarinya dari kantong plastic di pangkuannya, Soohwa langsung meletakkan novel itu di hadapan Siwon. Gadis itu meneguk cappuccino nya pelan sebelum memulai ocehannya.
Siwon tahu, begitu membicarakan novel, gadis di hadapannya ini bisa bicara satu jam nonstop.

“Novel ini…novel ini menceritakan tentang seorang gadis yang terserang kanker ganas, membuatnya terpaksa kehilangan keluarga, sahabat, bahkan orang yang paling dicintainya. Intinya sih begitu. Kau malas kan kalau mendengarkan penjelasan panjangnya?” ucap Soohwa lirih. Tiba-tiba ia tertegun.

“Kenapa diam?” Siwon melepaskan kacamatanya. Suasana café hari itu sangat sepi, ia merasa tidak membutuhkan salah satu alat penyamarannya tersebut. Ia meraih novel bersampul biru yang ada di hadapannya.

“Kadang….aku suka membayangkan…”

“Membayangkan apa?”

Soohwa kembali meminum minumannya. Siwon tahu gadis itu akan membicarakan sesuatu yang serius. “Kalau misalnya aku terkena…ah, tidak usah jauh-jauh terkena kanker. Kalau misalnya aku kecelakaan saja, lalu keadaanku sangat kritis, apa Eomma, Appa dan Jira akan khawatir? Benar-benar cemas dengan keadaanku? Apa mereka akan berusaha mati-matian demi kesembuhanku seperti orangtua di novel itu. Lalu Rinmi dan Yura, apa mereka akan tetap mau berteman denganku. Dan….Kevin?”

Siwon menjatuhkan garpunya. “Kau…kenapa kau bisa berpikiran begitu?”

“I don’t know, tiba-tiba saja pikiran itu berkelebat di benakku.”

“Tentu saja orangtuamu akan berusaha mati-matian demi kesembuhanmu, Jira akan selalu mendukungmu, ia adik yang baik kau tahu. Rinmi dan Yura, mereka kan sahabatmu, tentu saja mereka akan tetap mau berteman denganmu. Kevin, yah, kurasa, ia juga akan terus menemanimu, kalian kan sudah bersahabat sejak kecil.”

“How about….you?”

“Me?”

“Yeah, how about you?”bisik Soohwa lirih.

Tiba-tiba mata Siwon menangkap sosok yang sudah tidak asing lagi. Siwon buru-buru menghabiskan makanan dan minumannya. Novel yang ada di genggamannya kembali ia letakkan di meja.

“Cepat habiskan minumanmu,” kata Siwon cepat.

Soohwa terlihat kebingunan. “Is there any something wrong?”

Siwon memakai kembali kacamatanya dan menarik Soohwa kembali ke mobilnya. Dengan buru-buru ia meletakkan beberapa lembar uang won di meja kasir.

Begitu selesai memasang sabuk pengaman, Siwon langsung menginjak pedal gas sambil sesekali mengawasi gadis yang ternyata mengikutinya mobilnya dengan sedan hitam. Siwon menginjak pedal gas semakin dalam. Rahangnya mengatup keras.

“Mr. You haven’t answer my question,” kata Soohwa pelan.

Siwon melirik kearah Soohwa sekilas. Ia sedang tidak bisa berpikir sekarang. Satu-satunya hal yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana cara melarikan diri dari stalker gilanya. Matanya menangkap kini Soohwa menatapnya dengan pandangan tidak sabar.

“Aku tidak bisa berpikir saat ini,” katanya kesal.

Soohwa berjengit. “Kenapa sih kita ngebut begini? Lari dari apa?” tanyanya.

“Dari mobil yang mengikutiku itu!!! Di dalamnya ada seorang gadis yang selama ini mengikutiku! Dia stalker! Kau mau dia memotretmu dan mencari tahu segalanya tentangmu sampai kau akhirnya masuk tabloid? Kau sendiri yang bilang belum siap kan? Itu masih mending. Bagaimana kalau dia sampai menerormu?” teriak Siwon.

“Hey! Calm down, Mr. Stop shouting at me! Lagipula sudah tidak ada yang mengikuti kita lagi kok.” Wajah Soohwa memerah. Ia merasa SIwon tidak perlu berteriak begitu padanya.

“Kau cerewet sekali sih. Cih, ini yang membuatku benci padamu.”

Seketika itu juga Siwon menyadari perkataannya. Ia mengulurkan tangannya mencoba menyentuh tangan Soohwa.

“Don’t you dare to touch me!” kata Soohwa sambil mengibaskan tangannya.

“Terserah kau sajalah”

“YA! MR. WATCH OUT!!!”

I’ll Always Be By Your Side

Posted on

Ponselnya terus berdering. Jira ragu apakah ia harus menjawabnya atau tidak. Bila dihitung, mungkin ini adalah panggilan ke 17 dalam waktu satu menit dari nomor yang sama. Ia bisa mengatakan begitu karena tiap kali ia melihat huruf-huruf yang muncul di layar ponselnya, nama itulah yang tertulis. Semua panggilan itu berasal dari Lee Donghae. Harusnya mereka sudah bertemu beberapa jam yang lalu. Namun, Jira tahu kesibukan pacarnya yang notabene seorang artis itulah yang membuatnya menunggu lama. Kenapa Donghae terus meneleponnya? Jira juga tidak tahu pasti karena belum menjawab satu pun dari begitu banyak panggilan yang ada, namun ia yakin Donghae meneleponnya karena ingin minta maaf telah membuatnya menunggu lama. Ia sudah sering mengatakan kalau ia tidak butuh telepon permintaan maaf karena menurutnya hal itu hanya pemborosan pulsa. Ia sudah paham apa alasan pacarnya itu terus telat saat mereka kencan.

Akhirnya ia menyerah dan meraih ponselnya.

“Yobseyo…” Salah satu alasannya malas menjawab telpon adalah karena suaranya sedang serak, asmanya kambuh kemarin dan sebenarnya keadaannya hari ini belum benar-benar baik. Donghae selalu bertindak berlebihan jika tahu ia sedang sakit. “Kenapa kau terus meneleponku, Oppa?” tanya Jira sambil mencoba membuat suaranya senormal mungkin.
Di seberang sana terdengar suara Donghae yang panik. Persis seperti dugaannya. Lee Donghae sedang panik tak karuan hanya karena mendengar suaranya serak. “Astaga, Jagiya. Kau pasti sudah menunggu sangat lama ya? Makanya suara mu jadi serak begitu. Suaramu kenapa jadi seperti suara hantu Jagi? Aku tahu, aku tahu, cuaca hari ini memang agak buruk. Tapi kau tenang saja, aku sudah dekat kok. Aku segera sampai. Nanti aku akan segera membawamu ke tempat hangat. Tolong tunggu sebentar ya. Saranghae Jagi, annyeong!!”

“Hah, persis seperti dugaanku. Dia bahkan tidak memberiku kesempatan berbicara sepatah katapun,” kata Jira sambil menaruh kembali ponselnya di atas meja taman.

Tak berapa lama kemudian, sebuah suara yang sangat dikenal Jira terdengar. “Jagi!! Aku datang!! Ayo cepat masuk!!” kata Donghae sambil melambaikan tangannya dari dalam mobil.

Jira segera bangkit dan masuk ke mobil Donghae. “Super Junior M sedang sibuk sekali sepertinya, sampai-sampai aku harus menunggu mu selama tiga setengah jam.

“Kekeke, aku tidak bisa membayangkan nasib Siwon Oppa sekarang. Soohwa Onnie paling benci disuruh menunggu. Menunggu 5 menit saja amukannya sudah lumayan mengerikan. Apalagi tiga setengah jam. Harusnya kau bersyukur menjadi pacarku yang bisa dibilang cukup sabar.”

“Jagi, jeongmal mianhae. Padahal tadi aku sudah minta izin pada manajer Hyung untuk pulang duluan. Tapi dia tidak membolehkanku. Sekarang suaramu jadi begitu karena terlalu lama menunggu.”

Jira membelalakkan matanya. Pria di depannya ini sudah berkaca-kaca matanya. Ia tahu kalau Lee Donghae adalah seorang yang cengeng. Tapi, ia tidak tahu kalau hal sepele seperti ini saja bisa membuatnya menangis. Lagipula sebenarnya, suaranya serak bukan karena terlalu lama menunggu. Asma nya kambuh karena ia terlalu capek jalan-jalan keliling Taiwan kemarin.

“Omona, Oppa. Suaraku serak bukan karenamu. Aku serius. Ini karena asma ku kambuh kemarin. Sepertinya aku kecapekan karena begitu sampai di Bandara, Eomma dan Appa langsung mengajakku jalan-jalan. Mereka bilang mumpung dapat tiket ke Taiwan gratis jadi harus dimanfaatkan dengan baik. Belum lagi setelah makan malam Soohwa Onnie merengek minta ditemani belanja”.

Bukannya berhenti, air mata Donghae malah mengalir makin deras. “Pacar macam apa aku ini. Memaksa mu bertemu padahal kau sedang sakit. Hiks…”

Jira sekarang hanya bisa geleng-geleng. Rasanya apapun yang ia bilang selalu salah. “Oppa, semua ini bukan salahmu. Aku sendiri yang minta bertemu ingat? Begitu Eomma dan Appa diberi tiket gratis ke Taiwan aku langsung menghubungimu minta ketemuan, kau ingat tidak? Salahku sendiri sakit begini!!!” kata Jira gemas. Ingin sekali rasanya ia mencubit kedua pipi Donghae.

Donghae mengangguk-angguk pasrah karena ia tidak mau perdebatan kecil ini membesar lalu menghapus air matanya. “Baiklah, jadi kau mau kemana sekarang?”

Jira mengerutkan keningnya mencoba mengingat nama-nama tempat menarik yang sempat ia hapalkan di hotel. Tadinya ia mau mengajak Donghae ke semua tempat tersebut. Tapi sekarang perutnya yang melilit membuat ingatannya kabur. Menunggu sejak pagi tanpa ada makanan yang masuk ke perut membuatnya sangat kelaparan sekarang. “Bagaimana kalau kita makan dulu? Kau tau restoran enak di dekat sini? Perutku sudah lapar.”

“Kau sampai tidak makan karena menungguku? Aigoo…”

“Kau bisa menangis di restoran nanti. Sekarang antarkan saja aku ke sana, Oppa. Perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi,” potong Jira. Kalau ia tidak memotongnya ia yakin Donghae akan terus berbicara dengan air mata bercucuran.

    **********

Sepertinya restoran yang dipilih Donghae memang menyajikan menu yang sudah terkenal sangat lezat. Restoran ini dipenuhi oleh banyak pelanggan. Semua pelayannya terlihat sibuk melayani pelanggan yang terlihat tak sabaran. Semua meja yang tersedia pun sepertinya sudah ada yang menempati. Jira tak bisa menemukan satu pun meja kosong. Jangankan meja kosong, bahkan sedikit celah kosong di restoran ini seperti tidak ada. Pelanggan yang tidak mendapat meja menunggu di celah-celah kosong antar meja, persis seperti yang sedang Donghae dan Jira lakukan. Mungkin bagi Donghae hal ini sedikit menyiksa karena ia harus memakai jaket, masker, kacamata, dan topi untuk menyembunyikan identitasnya, sementara keadaan di restoran sangat pengap karena banyaknya manusia yang menjejali ruangan sempit tersebut

“Oppa, kalau kau sudah tidak tahan, kita pindah ke restoran lain saja,” bisik Jira.

“Sudah biar saja. Lagipula sepertinya orang yang disebelah sana hampir selesai makan”.

“Memangnya tidak ada lagi restoran enak di Taiwan? Restoran ini penuh sekali. Bahkan orang sampai rela mengantri, ckckck…”

“Setahuku sih banyak. Banyak sekali malah. Hanya saja dumpling yang ada di restoran ini tidak ada yang bisa mengalahkan. Kau harus mencobanya”.

“Aku kan bisa mencobanya lain kali, lebih baik kita pergi saja, Oppa. Kau pasti sudah sangat tersiksa dengan begitu banyak benda penyamaran itu”.

“Eh, lihat! Orang yang ada di sana sudah selesai makan! Ayo kita ke sana!!” kata Donghae sambil menyeret Jira ke meja yang baru saja ditinggalkan seorang pelanggan. “Untung kita langsung ke sini. Coba kalau keduluan orang lain. Aku tidak tahu kita harus menunggu berapa lama lagi”. Donghae mengangkat tangannya untuk memanggil salah seorang pelayan. “Kau mau apa, Jagi?” tanya Donghae sambil memberikan Jira buku menu.

Jira mengernyitkan dahinya begitu membaaca nama-nama makanan asing yang ada di menu. “Kau pilihkan saja untukku. Aku tidak tahu makanan mana yang sebaiknya aku pilih. Semuanya terlihat enak”.

Begitu Donghae menyebutkan makanan yang mereka pilih kepada pelayan, Donghae melipat tangannya di depan dada dan mencondongkan tubuhnya ke depan. “Nah, kau sudah jalan-jalan kemana saja?”

“Ehm… Taipei 101 building, Pasar Malam Shihlin, dan beberapa pusat perbelanjaan yang tidak aku ingat namanya. Aku baru sehari di sini. Jadi wajar kan kalau aku belum pergi ke banyak tempat. Oh ya, kau terima sms ku tadi malam?”

“Oh, soal mall yang menjual baju-baju keren? Pasti Soohwa yang menyuruhmu mengirim sms itu. Benar kan?”

Jira mengangguk singkat. “Pulsanya habis, jadi dia menyuruhku. Kenapa kau tidak jawab, Oppa? Kau sudah kecapekan ya?”

Belum sempat Donghae menjawab seorang pelayan datang dan menghidangkan pesanan mereka.

“Xie Xie…” kata Donghae ramah yang dijawab anggukan oleh pelayan tersebut.

“Jadwal mu pasti padat sekali ya kemarin, Oppa?” tanya Jira lagi.

Donghae mulai menyuap makanannya dan menjawab pertanyaan Jira dengan gelengan.

Tiba-tiba Donghae merasakan ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah pesan dari manajer Hyung yang isinya hanya mengingatkan kalau satu jam lagi ia sudah harus sampai di lokasi syuting. Ia sadar waktunya tidaklah banyak. Ia menarik napas perlahan-lahan dan menghembuskannya perlahan-lahan juga. Lalu ia meletakkan sumpitnya di atas piring. Mungkin kencan impiannya dengan menghabiskan waktu seharian ke tempat-tempat romantis bersama Jira tidak akan pernah tercapai. Jadwalnya yang begitu padat tak pernah mengizinkannya menuntaskan cita-citanya itu. Ingin rasanya ia kabur dari jadwal yang terus menumpuk.

“Kau sudah harus kembali?” tanya Jira sambil melotot ke arah ponsel Donghae. “Sebaiknya kau pergi sekarang sebelum kau mendapat omelan dari manajer Hyung mu itu, Oppa. Aku tidak mau kau mendapat omelan gara-gara pergi denganku”.

“Aku masih punya waktu satu jam. Hah, melelahkan sekali…” Kata-kata ini sudah sering diucapkannya. Ia juga sering mengatakan kalau ia ingin berhenti menjadi seorang idol. Tapi ia belum pernah benar-benar memikirkan tentang hal itu. Walaupun ia merasa amat lelah, merasa kehidupan pribadinya terganggu, tidak bisa bebas seperti orang lain, melihat dukungan ELF yang terus mengalir untuknya membuatnya selalu membuang jauh-jauh pikiran itu sebelum pikiran itu benar-benar menguasai dirinya dan membuatnya berhenti menjadi idol. Ia tidak ingin mengecewakan ELF. Ia juga tidak ingin merusak impian ayahnya.

Jira meneguk teh hangat yang disajikan pelayan tadi dan memajukan posisinya duduknya untuk memperpendek jarak antara dia dan Donghae. “Kau belum jawab pertanyaanku tadi. Ayo jawab, Oppa! Kenapa kau tidak membalas sms ku?” tanya Jira tak sabar sambil kembali meneguk teh hangat di genggamannya, mencoba menghangatkan tubuhnya yang kedinginan.

Cuaca di Taiwan sekarang memang tidak bisa dibilang baik, hujan terus turun dari pagi dan menunggu di taman, walaupun ada semacam payung kecil yang sengaja dipasang di tengah meja membuat dirinya terlindung dari hujan, membuat keadaannya semakin buruk. Ditambah lagi suaranya yang serak sejak bangun tidur membuatnya malas mengeluarkan suara karena ia benci mendengar suaranya sendiri. Mungkin sepulang dari kencannya dengan Donghae ini ia harus segera beristirahat total di hotel. Kemarin ia memang memaksakan diri mengiyakan semua ajakan dari orangtua dan Onnienya untuk jalan-jalan, padahal sejak di Incheon ia sudah merasa tidak enak badan dan sesak napas. Entah apa yang bisa ia minum untuk memperbaiki suaranya atau menyembuhkannya asmanya kalau tiba-tiba ia kambuh nanti. Tetes terakhir obatnya sudah ia minum kemarin dan ia lupa membawa obat. “Mungkin aku bisa mampir ke apotek sebentar nanti,” pikirnya. “Semoga saja asmaku tidak kambuh saat Donghae masih di sini. Entah kehebohan apa yang ia buat kalau hal itu benar terjadi,” pikirnya lagi.

“Hoahm….”

“Kau tidur jam berapa semalam? Tak bisa tidur karena tak sabar ingin bertemu denganku ya?” goda Donghae.

“Berhenti menggodaku, Oppa. Kau tahu kalau aku amat membenci semua godaan mu,” kata Jira sambil mendecakkan lidah dengan kesal dan mulai memakan dumpling di hadapannya.

“Nah, sekarang jangan alihkan pembicaraan lagi! Jawab pertanyaanku, kenapa kau tidak membalas pesanku semalam, Oppa?”

“Aku hanya ingin membuatmu bertanya padaku hari ini”.

“Hah?”

“Karena itu tandanya kau rindu padaku,” kata Donghae sambil tersenyum jahil.

“Cih, dasar…”

    **********

    Sekitar setengah jam kemudian, mereka sudah ada di dalam mobil audi hitam manajer Donghae yang tadi Donghae pinjam dengan paksa. Donghae melepaskan semua atribut penyamarannya dan menarik napas panjang.

    “Kau mau kemana sekarang? Sudah bisa mengingat nama tempatnya?” tanya Donghae.

    Jira mengerutkan keningnya. “Ah iya, Lotus Lake. Ayo kita ke sana, Oppa,” Suara Jira lebih mirip bisikan sekarang.

    “Baik tuan putri, next stop, Lotus Lake!!!” seru Donghae sambil menarik gas begitu Jira selesai memasang sabuk pengamannya.

    Jira mendecakkan lidahnya. “Berhenti memanggilku begitu, Oppa! Sudah berapa kali aku bilang aku benci dipanggil begitu.”

      **********

    Tak lama kemudian, Jira dan Donghae sudah berdiri di depan Danau Lotus buatan manusia yang paling menakjubkan di dunia. Donghae menggenggam tangan Jira dan menariknya berkeliling danau tersebut. Jira mengikuti langkah Donghae. Jira hanya bisa terkagum-kagum dalam hati begitu melihat candi dan patung besar dari Kaisar Surga Dark, Tuhan Tao yang tersebar di sekitar area Lotus Lake. Ini adalah pertama kalinya ia ke tempat tersebut. Lain halnya dengan Donghae yang sudah pernah diam-diam pergi sendiri ke sini saat merasa capek akan banyaknya schedule. Karena saat itu ia datang dengan mood jelek, ia tidak menyadari betapa indahnya tempat ini, ia tidak melihat kemegahan Paviliun Musim Semi dan Gugur, Dragon dan Tiger Pagoda, dan Kuil Konfusius. Sekarang ia baru bisa melihat dengan jelas kuil-kuil tersebut, tidak heran kalau tempat ini sangat populer di Taiwan, ia mengakui kalau tempat ini begitu indah. Jira dan Donghae membiarkan mata mereka berpesta sepuasnya.

    Mereka kembali berjalan mendekati Lotus Lake yang menjadi tujuan utama mereka datang ke sini. Danau itu begitu indah dengan sangat banyaknya bunga teratai pink yang mekar di pinggir-pinggirnya. Jira menyukai pemandangan yang ada di hadapannya. Ia yakin ia tidak salah memilih tempat. Ia lalu mengangkat tangan untuk menaungi matanya dari sinar matahari yang sudah bersinar dengan teriknya.

    “Kau mau pinjam topi dan kacamataku?”

    Suara Donghae tidak begitu terdengar karena masker yang dipakainya.

    “Mwoya, Oppa?”

    “Kau mau pinjam topi dan kacamataku?” ulang Donghae.

    Jira menggeleng sambil tersenyum. “Aku tidak mau penyamaranmu terbongkar dan membuat acara kencan kita terganggu karena fans-fans mu, Oppa. Sudah lama kita tidak kencan dengan tenang begini. Selama di Korea fans-fans mu selalu saja tahu kemana kau pergi dan mengganggu acara kita,” jelas Jira.

    Donghae mengangguk-angguk mendengarnya.

    Jira mengulurkan tangannya dan menarik Donghae untuk duduk di pinggir danau bersamanya.

    Selanjutnya ponsel Donghae kembali bergetar. Sebuah pesan dari manajer Hyung yang mengingatkan Donghae kalau ia harus segera kembali ke lokasi syuting.

    Jira menekuk wajahnya begitu melihat Donghae kembali mendapat pesan dari manajernya. Ia berdeham, sayang tindakannya itu tidak membuat Donghae melepaskan pandangan dari layar ponsel. Ia kembali berdeham, Donghae tetap menunjukkan respon yang sama. Dengan susah payah akhirnya Jira memanggil Donghae dengan suaranya yang serak.

    “Oppa….”

    “Ne?” Akhirnya Donghae menaruh kembali ponselnya di saku celana.

    Tiba-tiba pikiran Jira melayang ke kira-kira satu tahun yang lalu. Saat pertama kali ia melihat pria di depannya ini menangis.

    “Kau ingat saat kita pertama bertemu, Oppa? Saat aku pertama kali melihatmu menangis?”

    Donghae mengerutkan keningnya. “Ya! Kenapa tiba-tiba kau mengungkit masalah itu? Memalukan saja”.

    “Aniyo, tiba-tiba saja kenangan itu berkelebat di kepalaku.”

      **********

    FLASHBACK
    “Mwo? Nugu? Omona!!! Ckckckck… Bisa-bisanya hal itu terjadi!” komentar Eomma terdengar lagi. Begitulah reaksi Eomma setiap mendapat gosip panas dari liputan infotainment di televisi. Soohwa langsung menyumpal kupingnya dengan earphone dan melanjutkan membaca novel. Jira tahu Onnie nya memang benci kalau ada orang yang mengganggunya saat ia sedang serius membaca novel. Jira sendiri kini sedang membaca komik yang baru ia beli kemarin.

    “Kau tahu tidak?” Tiba-tiba suara Eomma kembali terdengar. Jira tidak begitu yakin pertanyaan itu ditujukan untuk siapa.

    “Kau sebelumnya sudah tahu belum? Kenapa tidak pernah memberitahu Eomma?” tanya Eomma sambil mengerutkan kening. Pandangannya tertuju pada Soohwa. Seharusnya Soohwa langsung sadar kalau pertanyaan itu ditujukan padanya. Tapi, ia sama sekali tidak memberikan respon apapun, matanya masih tertuju pada novel yang ada di hadapannya. “YA!” bentak Eomma. “Kenapa kau diam saja? Tuli ya? Kalau orangtua bertanya jawab dong!!”

    “Aku tidak mendengar apa yang Eomma tanyakan. Bisa Eomma ulangi lagi?” tanya Soohwa sambil melepas earphone nya.

    “Aku juga tidak dengar, Eomma. Memang Eomma mau tanya apa sih?” tanya Jira sambil meletakkan komiknya.

    “Makanya, dengarkan Eomma baik-baik. Kali ini Eomma tidak mau mengulangnya. Ara?”

    Soohwa dan Jira mengangguk.

    Eomma menggelengkan wajahnya dan mendengus. “Apa benar Hangeng yang amat tampan itu memutuskan keluar dari Super Junior?”

    Soohwa langsung terlonjak dari tempatnya duduk tadi begitu mendengar pertanyaan Eomma. “Eomma tahu darimana?” tanyanya.

    “Dari infotainment barusan. Kau tidak mengetahuinya?”

    Soohwa menggeleng.

    “Bagaimana denganmu Jira?”

    Jira memberikan jawaban yang sama dengan kakaknya.

    “Kalian ini bagaimana sih! Soohwa, kau kan pacarnya Siwon, kau juga Jira katanya ELF sejati, tapi berita ini malah Eomma yang tahu duluan. Sebenarnya berita ini sudah beredar dari kemarin, hanya saja Eomma tidak yakin dan lupa menanyakannya pada kalian!! Ckckckck, cobaan bagi Suju kali ini berat sekali ya…”

    Eomma mengambil tumpukan pakaian kotor yang tergeletak begitu saja di depan meja televisi. Pekerjaan itu tertunda karena berita tadi

    Hening sesaat.

    “Onnie mau ke dorm menemui Siwon Oppa? Siapa tau aja dia lagi butuh teman curhat,” tanya Jira.

    “Ne? Ah, aniyo, untuk apa aku menemuinya. Kerajinan banget sih. Ngabis-ngabisin ongkos doang tau!! Mending juga aku datang ke dorm U-Kiss dan menemui Kevin Oppa, hehehe… Lagipula aku yakin dia tidak membutuhkanku sebagai teman curhat. Kau tau sendiri kalau aku adalah pendengar yang payah. Sudah ya, aku mau lanjut baca novel di kamar saja,” kata Soohwa lalu masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.

    Jira memikirkan kata-kata Eomma. “Mungkin benar juga apa yang Eomma bilang. Ini adalah cobaan berat bagi Oppadeul. Bagaimana Onnie bisa secuek itu? Ah, aku lupa. Onnie kan memang orang paling cuek sedunia,” pikir Jira.

    Ia menaiki anak-anak tangga menuju kamarnya dan segera berganti pakaian. Ia baru ingat kalau ia ada janji mengerjakan kerja kelompok di rumah salah satu temannya.

    Begitu ia selesai berganti pakaian dan sampai di pagar depan ia melirik ke jendela kamar kakaknya. Terlihat Soohwa sedang duduk bersila di atas kasur sambil memelototi ponselnya dan memikirkan sesuatu. “Ah, dia mau mengirim pesan ternyata. Alasan saja masuk kamar baca novel, ternyata mau mengirim pesan ke Siwon Oppa. Kenapa mengirim pesan untuk pacar saja terlihat susah bagi Onnie? Orang aneh!!!”

    Ia kembali merapikan atasan hijau dan celana panjang jeans yang ia kenakan dan menyisir kembali rambut pendeknya. Rambutnya agak berantakan karena ia lupa menyisir saat di kamar tadi. Ia menggunakan kaca jendela kamar Soohwa sebagai cermin. Jira kembali menatap dirinya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Pandangannya terhenti di bagian wajah. “Hmm, sudah lumayan lah tanpa make up.” Jira amat membenci make up. Seresmi atau sepenting apapun momennya ia tidak akan memakai make up. “Nah, sudah rapi. Aku siap!!”

      **********

    Jira kembali melihat pesan yang baru dikirimkan temannya.

    “Benar di sini tempat dia tinggal?” tanya Jira dalam hati. Ia memang tahu temannya yang satu ini bisa dibilang sangat kaya, tapi ia tidak menyangka kalau temannya ini tinggal di apartemen yang sama dengan apartemen yang digunakan Super Junior sebagai dorm. Di lantai yang sama pula.

    Jira tersenyum dan mengangguk-angguk. Ia segera masuk dan menekan tombol di lift yang menunjukkan angka yang tertulis di layar ponselnya. Setelah lift berhenti ia melangkah keluar dan menuju pintu dengan nomor yang tertera di ponselnya. Begitu sampai di depan pintu yang ia tuju ia segera menekan bel pintu. Butuh waktu lama sampai akhirnya ada seseorang yang membukakan pintu.

    Pria yang membukakan pintu memandang Jira keheranan, lalu bertanya, “Mian, nuguseyo? Kau mencari siapa di sini?”

    Jira yang sedari tadi sibuk mengirim pesan ke temannya untuk minta dibukakan pintu mengangkat tasnya yang penuh dengan barang-barang yang dibutuhkan untuk proyek mereka. “Mian Oppa, Jira Imnida. Aku teman sekelas Sooae, kami mau mengerjakan proyek dari sekolah,” katanya sambil mengangkat wajah. Seketika itu juga matanya membelalak dan mulutnya menganga lebar-lebar.

    Pria di depannya mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah Jira. “Aigoo, agashhi, apa yang terjadi padamu? Kau kenapa? Sepertinya kau salah, di flat ini tidak ada perempuan yang bernama Sooae, malah sebenarnya, tidak ada perempuan yang tinggal di sini”.

    “Ah mian! Sepertinya aku salah, hehehe, mian sudah mengganggumu, Oppa,” kata Jira sambil membungkuk dan kembali membuka pesan dari Sooae.

    “Ah, ternyata pintu yang satu lagi. Jira babo!!” rutuk Jira dalam hati sambil bergerak ke pintu yang ada tepat di samping pintu tadi. Ia kembali menekan bel pintu. “Sooae beruntung sekali bisa bertetangga dengan Super Junior, dia tinggal tepat disamping dorm Super Junior. Omona, Donghae Oppa tadi tampan sekali. Beruntung akhirnya aku bisa melihatnya dari dekat. Percuma memang punya Onnie yang jadi pacar member Super Junior tapi tidak pernah mau mengajakku bertemu member Super Junior satu pun. Sudahlah, yang penting aku sudah bisa melihat Donghae Oppa dari dekat tadi

    Tak lama pintu terbuka. “Ah, Jira…” sapa Kim ahjumma, Eomma nya Sooae.

    “Annyeonghaseo, Ahjumma, Sooae ada?” tanya Jira sopan.

    “Mian Jira-ya, tapi baru saja Sooae keluar dengan sepupunya. Ia memintaku untuk menyampaikan kalau ia tidak bisa mengerjakan proyek kalian sekarang”.

    Jira mengangguk-angguk mendengarnya. “Oh, kamsahamnida Ahjumma. Kalau begitu aku pulang dulu ya, Ahjumma, annyeong!” kata Jira sambil membungkuk.

    Kim ahjumma hanya mengangguk dan tersenyum ramah lalu menutup pintu.

    “Temani aku di dalam saja yuk. Aku kesepian sekarang”.

    Jira menoleh ke samping. Donghae ternyata masih bersender di pintu yang terbuka. Wajahnya yang suram membuat Jira teringat kasus Hangeng.

    “Eh, tapi aku harus segera pulang, Oppa. Aku….”

    “Ayo, masuk! Temani aku sebentar saja. Aku mohon…”

    Jira mencoba menolak, tapi ia berpikir sesaat begitu ia melihat kesedihan dan kesepian yang di mata Donghae. Akhirnya ia menurut saja. Bagaimanapun ia bisa tega membiarkan Donghae sendirian di dorm yang bisa dibilang ukurannya cukup besar, ditambah lagi dengan kasus Hangeng, ia yakin Donghae sudah menguras banyak air mata karena masalah itu, terlihat dari wajahnya yang agak basah. Jira tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Heechul sekarang. Kalau Donghae saja menangis sedih, bagaimana dengan Heechul yang jelas-jelas adalah couple atau orang yang paling dekat dengan Hangeng di Super Junior. Lagipula, ini juga adalah momen-momen yang sudah ia tunggu sekian lama, bertemu dengan Donghae dan masuk ke dorm Super Junior.

    Begitu ia masuk ke dalam, ia melepaskan sepatu dan mengenakan sandal rumah yang ditunjukkan Donghae.

    Bagian dalam dorm Super Junior jauh dari yang selama ini ia bayangkan. Ia tidak menyangka kalau dalamnya bisa seberantakan ini. Banyak barang yang berserakan dimana-mana, baju kotor juga tersampir begitu saja di berbagai tempat. Padahal, kalau saja dorm ini rapi sedikit, ia yakin kesan mewah dan hangat bisa terlihat. Setelah meletakkan tas yang tadi ia bawa di atas sofa, Jira mengamati foto-foto yang tergantung di dinding. Banyak sekali foto Super Junior yang masih lengkap dengan Kibum, Kangin, dan Hangeng di dalamnya. Jira mengamati foto itu satu-persatu. Foto-foto favoritnya adalah foto saat-saat Super Junior memenangkan penghargaan. Wajah-wajah mereka terlihat begitu bahagia dengan piagam penghargaan yang tergenggam erat-erat.

    Begitu asyiknya Jira mengamati foto-foto itu sampai-sampai ia tidak menyadari Donghae sudah berdiri di sampingnya. “Sepertinya kau asyik sekali melihat foto-foto ini daritadi. Bagus kan?” tanya Donghae. “Oh iya, kalau aku boleh tahu siapa namamu?”

    “Jira, Kang Jira imnida,” jawab Jira singkat.

    “Kenapa kau sepertinya tertarik sekali dengan foto-foto ini? Oh iya, kalau aku boleh tahu, foto mana yang jadi favoritmu?” tanya Donghae.

    “Aku seorang ELF, Oppa. Itulah yang membuatku tertarik melihat foto-foto ini. Dan sepertinya foto ini adalah foto favoritku,” jawab Jira sambil menunjuk sebuah foto saat Super Junior memenangkan GDA dengan lagu Sorry, Sorry. “Sayang tidak ada Kibum Oppa di situ”.

    Donghae tertawa. Tawa yang cukup miris untuk didengar. “Ah, kita punya pemikiran yang sama ternyata! Aku juga sangat menyukai foto ini. Satu hal yang kurang di sini adalah Kibum”.

    “Eh, benarkah?” tanya Jira gugup. “Jira babo!! Pertanyaan macam apa itu. Cepatlah cari topik pembicaraan lain!!!” rutuknya dalam hati.

    “Oh iya, silahkan diminum! Mian ya, aku cuma bisa menyediakan ini. Hanya ini yang ada di sini, hehehehe…” kata Donghae sambil mengulurkan gelas berisi jus apel.

    Jira menerimanya dengan bimbang.

    “Tidak usah khawatir,” kata Donghae mengejutkan Jira.

    “Eh, aku tidak berpikir kalau ini obat bius kok, Oppa…” jawab Jira panik. “Ya!! Kang Jira!!! Sebaiknya kau pergi saja dari sini secepatnya. Jawaban memalukan!!!” jeritnya dalam hati.

    “Hahahaha, kau lucu sekali sih!!! Sudah minum saja. Aku jamin kalau gelas itu hanya berisi jus apel tanpa campuran lain”.

    Jira menatap Donghae yang berjalan kembali ke dapur. Lalu tatapannya kembali beralih ke gelas yang ada di hadapannya. Setelah dengan ragu-ragu meminum jus apel itu, yang ternyata memang hanya jus apel tanpa campuran obat bius atau apapun yang ada di pikirannya, ia kembali melihat-lihat sekeliling ruangan. Kalau diperbolehkan ia ingin sekali mengabadikan ruangan ini dengan kamera ponselnya. Ada sebuah organ di ruang tengah yang ia yakin sering digunakan Ryeowook untuk menciptakan lagu. Tanpa sadar, ia berjalan mendekati organ tersebut. Jira mengelus permukaan organ tersebut dan membuka tutupnya dengan sangat hati-hati. Ia memang tidak bisa memainkan alat musik, satu-satunya alat musik yang bisa ia mainkan hanyalah sebuah gitar plastik mainan anak-anak yang asal ia petik saja tanpa meperdulikan nada yang keluar. Ia duduk di depan organ itu dan menekan-nekan tuts-tutsnya berpura-pura sedang memainkan sebuah lagu dan tersenyum sendiri.

    “Ya! Jangan pegang-pegang sembarangan! Aku tidak mau disalahkan Wookie kalau alat itu rusak!”

    Jira mengangkat kepala dan melihat Donghae berjalan menghampirinya. Dengan segera ia menjauhi organ tersebut. Ia berjalan ke arah Donghae dan menarik tangan Donghae sambil menunjuk-nunjuk organ itu dengan semangat. “Alat itukah yang membantu Ryeowook Oppa menciptakan lagu-lagu indah?”

    “Ne,” jawab Donghae singkat.

    “KYAAAAA!! Aku menyentuhnya!! Aku menyentuh organ yang sering disentuh Ryeowook Oppa!! Itu organ yang membantunya menciptakan lagu!!” pekik Jira.

    Donghae hanya tersenyum kecil.

    “Kau bisa memainkannya kan, Oppa?” tanya Jira pelan sambil kembali menggerak-gerakkan jari tangannya di atas tuts organ tersebut.

    “Yah, lumayanlah. Walaupun tak sebagus Wookie. Kau mau aku mencobanya?”

    Jira mengangguk dan menarik Donghae supaya duduk di kursi yang tadi didudukinya. “Ne, Oppa!! Coba mainkan!!!”

    Donghae duduk dan menatap Jira dengan pandangan jahil dan berkata, “Memangnya kau mau bayar berapa? Seenaknya saja menyuruh-nyuruh Donghae Super Junior….”

    “Mwo?” tanya Jira sambil menggerakkan bahu.

    “Kau mau bayar berapa untuk permainanku ini? Satu juta won per lagu?” Donghae mengulangi pertanyaannya.

    Jira mendorong bahu laki-laki itu dan menunjuk organ dengan tegas. “Aku kan sudah menemanimu, Oppa. Anggap saja itu bayarannya”.

    “Ne, ne, arasseo,” kata Donghae.

    Alunan melodi yang lembut mulai terdengar. Donghae memainkan lagu Shining Star. Jira duduk di sofa yang ada di samping organ, menopangkan dagu di atas senderan tangannya sambil melihat jemari tangan Donghae menari-nari di atas tuts dengan lincahnya. Ketika alunan lagu yang dimainkan laki-laki itu akhirnya berhenti, Jira bertepuk tangan.

    “Keren sekali!!” serunya lalu memegang bahu Donghae. “Eh, Oppa. Kenapa diam saja? Permainanmu bagus sekali!!!”

    Donghae membalikkan tubuhnya dan tersenyum, matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. “Masih belum bagus jika dibandingkan dengan Wookie”.

    “Gwenchanayo, Oppa?” tanya Jira.

    Tiba-tiba terdengar alunan lagu Sorry, Sorry yang merupakan nada dering ponsel Jira. Jira merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. Raut wajahnya berubah ketika melihat layarnya. “Mengganggu saja,” gerutu Jira. Ia segera menekan tombol hijau dan berjalan menjauh dari Donghae agar laki-laki itu tidak dapat mendengar panggilan yang menyuruhnya pulang karena sejujurnya ia belum mau pulang.

    “Yobseyo!!!”

    “…”

    “Mwoya, Onnie?”

    Jira berbicara dengan nada yang sengaja direndahkan.

    “Mwo? Ulangi lagi! Aku tidak dengar…”

    “…”

    “Sekarang?”

    “…”

    “Aku…Aku tidak bisa pulang sekarang…”

    “…”

    “Aku sedang sibuk…”

    “…”

    “Ne?”

    “…”

    “Ehm…Proyekku dengan Sooae belum selesai, Onnie…”

    “Telepon dari siapa, Jira?” seru Donghae keras.

    Jira terlompat kaget dan buru-buru menutup ponselnya dengan tangan.Tapi tidak ada gunanya, Soohwa sudah mendengar kata-kata itu dengan sangat jelas.

    “Jira, kau sedang bersama siapa sekarang? Jawab yang jujur!! Sejak kapan Sooae mempunyai suara berat seperti laki-laki? Atau malah Sooae sudah menjadi lelaki sekarang?” tanya Soohwa dengan nada curiga. Karena tidak tahu harus menjawab apa, akhirnya Jira menekan tombol merah dan memutuskan sambungan telponnya. Ia kembali duduk di sofa tempatnya semula.

    “Oppa…”
    Donghae diam. Ia menundukkan kepalanya di atas organ dan tidak bergerak sama sekali.

    “Oppa, gwenchana? Oppa, katakanlah sesuatu”.

    “Gwenchanayo, aku sudah mengatakan sesuatu kan?” kata Donghae sambil mengangkat wajahnya.

    Jira berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke samping Donghae, mencoba menyentuh laki-laki itu. Tapi Donghae menghindari sentuhan Jira.

    “Kau mau aku pergi sekarang, Oppa? Aku sepertinya sudah cukup menemanimu”.

    Donghae melihat ke bawah tanpa berkata apa-apa.

    “Baiklah, aku pergi dulu ya, Oppa. Mian sudah merepotkan…” Setelah mengatakannya, Jira kembali ke ruang tengah untuk mengambil tasnya sementara Donghae mengacak rambutnya dengan frustasi. Tadinya ia sudah merasa lebih baik, entah kenapa setelah memainkan lagu Shining Star pikirannya kembali berkecamuk, ia bahkan merasa lebih buruk dari sebelumnya.

    “Apa benar Donghae Oppa baik-baik saja?” tanya Jira dalam hati.

    Tak lama kemudian, Donghae memanggil Jira dan memeluk Jira dari belakang. Kepala Donghae tertunduk di bahu Jira. Jira bisa merasakan tubuh Donghae bergetar dan bahunya basah karena air mata Donghae.

    Jira benci skinship, terlebih lagi dengan lawan jenis. Biasanya kalau ada lelaki, selain keluarganya, memegang tangannya, ia akan segera melepaskan tangannya dari pegangan orang tersebut. Tapi saat ini, ia tidak tega melepaskan diri dan membiarkan Donghae memeluknya.

    “Menangislah sepuasmu, Oppa..”

    Tangis Donghae semakin deras. Ia belum menerima sepenuhnya kalau Hangeng mau meninggalkan Super Junior setelah beberapa tahun kebersamaan mereka. Ia tahu ia tidak boleh egois karena keputusan Hangeng meninggalkan Super Junior dan SME memang jalan terbaik setelah semua ketidakadilan yang diterima Hangeng. Ia hanya belum siap melepas salah satu orang yang sudah ia anggap keluarga sendiri secepat ini.

    “Bolehkah aku meminjam bahumu agak lama?” tanya Donghae di sela tangisannya.

    “Pinjamlah sesukamu, Oppa. I’m here for you…” kata Jira tergagap. Ia tidak menyangka ia berani mengatakan hal itu.

    Setelah menghapus air mata dari wajahnya, Donghae mulai menceritakan tentang semua yang ada di pikirannya.

    Begitu Donghae selesai berbicara, terjadi keheningan di antara mereka. Jira tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tiba-tiba Donghae melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Jira.

    “Gomawo, Jira-ya”.

    Tanpa penjelasan lebih lanjut Jira tahu untuk apa Donghae berterima kasih. “Kau tidak perlu berterima kasih, Oppa,” kata Jira sambil tersenyum. “Kau tahu? Ini adalah pertama kalinya untukku melihat laki-laki dewasa menangis. Itu hal yang manusiawi, tenang saja, aku tidak bermaksud mengatakan kalau kau seperti perempuan, Oppa. Aku janji, aku akan selalu ada untukmu, Oppa. I promise that I’ll always be by your side for you…”

    Wajah Jira memerah begitu ia menyadari perkataannya barusan dan menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan. “Jangan hiraukan kata-kata ku barusan, Oppa. Maksudku adalah

    “Hmmm?”

    “Maksudku adalah….Aku….”

    Donghae tersenyum dan mengelus kepala Jira. “Kalau begitu aku juga berjanji akan selalu ada di saat kau membutuhkanku. I’ll be always be by your side…”

    Tiba-tiba pintu di hadapan mereka terbuka. Siwon masuk dan membelalakkan matanya kepada Jira yang memasang tampang bingung. “Ya! Kenapa kau bisa ada di sini?”

    “Eh, Siwon Oppa, itu…ehm…aku…”

    “Kalian saling kenal?” tanya Donghae pelan.

    Siwon menutup pintu dan menyenderkan tubuhnya. “Kau tahu darimana alamat dorm kami? Kau bersama Onnie mu?”

    “Aku kan ELF, jelas aku tahu alamat dorm kalian, Oppa. Bagaimana sih? Aku tidak bersama Onnie. Aku di sini awalnya karena salah alamat saja…”

    “Ya! Jawab pertanyaanku!! Kalian sudah saling kenal?” tanya Donghae.

    “Donghae? Aku tidak tahu kau ada di sini daritadi”.

    “Aku memang mengenal orang itu, Oppa. Dengan amat menyesal, terpaksa aku mengenal orang itu,” kata Jira sambil menatap Donghae dan menunjuk Siwon dengan keras.

    Donghae terlihat kebingungan.

    Siwon berjalan melewati Donghae dan Jira. “Aku mau ke dalam sebentar, tunggu aku. Aku akan mengantarmu pulang, Jira. Terserah kau benci atau bagaimana padaku tapi aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian menjelang malam begini”.

    Jira memandangi sosok Siwon yang masuk ke dalam dengan cepat dengan tatapan benci. “Cih, sok perhatian banget sih!!”

    “Sebenarnya kau dan Siwon punya hubungan apa sih?” tanya Donghae bingung.

    Jira menggeleng. “Aku malas menjawabnya, Oppa. Yang jelas aku tidak mau punya hubungan apapun dengan orang itu”.
    “Kenapa kau kelihatannya membenci Siwon?”

    “Aku hanya tidak suka saja dengan orang itu. Tidak ada alasan jelas juga sih sebenarnya,” jawab Jira ragu.

    Ia sedang mengamati kembali foto-foto yang terpajang di dinding dengan perasaan kagum ketika mendengar Siwon memanggilnya lagi.

    “Jira-ya!”

    “Ne, Oppa? Kau tidak usah mengantarku. Aku bisa pulang sendiri. Tidak usah sok baik deh,” kata Jira sambil menatap Siwon dengan tatapan tajam.

    “Onnie mu tadi kutelpon dan ia memintaku untuk segera mengantarkanmu ke rumah…”

    “Ah!! Dasar tukang ngadu!! Itulah salah satu alasan aku membencimu!! Omona, Onnie!!!Kenapa kau bisa suka dengan orang macam ini!!!”

    “Ah! Jadi kau adiknya Soohwa?” tanya Donghae pada Jira. Sepertinya ia sudah mengerti sekarang. “Bagaimana kalau aku ikut mengantarmu?” tanya Donghae lagi.

    “Hmm…Boleh saja…Jadi aku tidak usah pulang berdua dengan orang itu…”

    “Baguslah! Boleh kan, Siwonnie?” tanya Donghe. “Aku mau memastikan ‘calon saudara ipar’ mu ini sampai di rumah dengan selamat,” kata Donghae dengan menekankan kata calon saudara ipar.

    Siwon mengerutkan dahi. Ia tidak mengetahui apa maksud Donghae menekankan kata tersebut. “Apa maksudmu dengan saudara ipar? Kalau ia menjadi saudara ipar ku maka ia akan menjadi saudara ipar mu juga, Hae-ya. Kita kan keluarga…”

    Donghae dengan ragu menjawab, “Aku tidak yakin ia akan menjadi saudara iparku juga.”

    Jira mulai bingung dengan arah pembicaraan dua laki-laki di depannya ini. “Omona!!! Sampai kapan kalian mau terus membicarakan hal tidak penting begini? Jadi mengantarku pulang tidak?”

    Siwon mengangguk dan mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja. “Ne, kau jadi ikut tidak, Hae?”

    “Tunggu, aku mau ambil ponselku dulu!” Donghae memutar kepala ke sekeliling ruangan dan melihat ponselnya berada di atas organ yang baru saja ia mainkan tadi.

    “Cepat sedikit!! Aku tidak mau kena marah Eomma karena pulang telat!!!” gerutu Jira.

    “Kau ke parkiran duluan saja. Biar nanti aku dan Donghae menyusul,” kata Siwon pada Jira.

    Jira menurut dan segera keluar dari ruangan itu menuju tempat parkir. Sementara Siwon segera berjalan mendekati Donghae dan menarik tangannya. “Apa maksudmu tadi? Tolong katakan padaku. Aku penasaran sekali,” kata Siwon. Donghae hanya menjawabnya dengan senyuman dan berjalan melewatinya.

    Begitu Donghae sampai di ujung ruangan Siwon kembali menahannya. “Ya! Jamkamman! Jawab aku dulu!!”.

    “Kau benar-benar penasaran ya? Coba tebak sendiri deh, masa’ begitu saja kau tidak mengerti”.

    Siwon menahan napas dan mengikuti Donghae yang sudah berjalan ke arah lift, mencoba memikirkan maksud dari semua perkataan Donghae.

    “Ah…Aku tahu!!” seru Siwon pada akhirnya. Donghae berbalik dan menatap Siwon. “Kau mau membantuku?”

    “Kenapa kau tidak bilang daritadi saja daripada berbelit-belit seperti itu!!!”

    “Sudahlah, kau mau membantuku tidak?”

    Siwon berpikir sejenak. “Bukannya aku tidak mau membantumu, hanya saja, kau tahu ia sangat membenciku. Bagaimana aku bisa membantumu kalau begitu? Lagipula, kau baru saja bertemu dengannya kan? Bagaimana bisa…”

    “Molla, aku juga tidak tahu.”

      **********

    “Hahahahaha, perutku sakit tiap kali mengingatnya, Oppa!! Lucu sekali mengingatmu menangis di bahuku. Baru kali itu aku melihat laki-laki menangis di bahu perempuan yang jauh lebih muda darinya….”

    “Kau jahat sekali sih mentertawakanku begitu…”

    “Oh, oke oke, aku tidak akan mentertawakanmu lagi, hahahahaha…”

    Tepat pada saat itu juga ponsel Donghae kembali bergetar. Ia membuka pesan dan menyadari kalau ia harus ke lokasi syuting secepatnya. Ia cepat-cepat menarik tangan Jira dan masuk ke dalam mobil.

    Begitu ia mau menjalankan mobil, ponselnya kembali bergetar. “Ne, Hyung. Aku sudah dalam perjalanan menuju lokasi syuting. Tunggu aku sebentar lagi,” kata Donghae di telepon, lalu kembali memasukkan ponselnya ke saku celana.

    Jira melihat Donghae dengan bingung. “Dari manajermu, Oppa? Kau sudah harus kembali ke lokasi syuting sekarang, ya?”

    “Ne. Ottohke? Aku kan harus mengantarmu pulang dulu,” bisik Donghae dengan panik.

    Jira mengangkat alis karena terkejut dan mengambil ponselnya. “Mungkin Onnie belum pulang dan aku bisa memintanya menungguku untuk pulang bersama.” Jira menekan tombol hijau pada ponselnya. “Yobseyo, Onnie?” Lalu ia mulai menjelaskan maksudnya dan meminta Onnie nya untuk menunggu di tempat kakak nya berada sekarang, Dream Mall. Menemukan Dream Mall jauh lebih mudah daripada menemukan hotel tempatnya menginap karena bisa dibilang hotel tempatnya menginap adalah hotel murah yang tidak terlalu terkenal sehingga susah untuk mencarinya.

    Jira mendengarkan perkataan wanita yang lebih tua setahun darinya itu sambil sesekali mengangguk dan berkata, “Ne,” dan “Arasseo”. Akhirnya ia mengatakan “Annyeong” dan menutup pembicaraan.

    “Onnie mu bilang apa? Ia mau menunggu?” tanya Donghae ketika Jira kembali meletakkan ponselnya ke dalam saku celana.

    “Ne, Oppa. Asal kau cepat menyetirnya dan aku harus mentraktirnya nanti, hah…”

    “Kita sudah sampai kok. Itu Onnie mu!!!”

    “Eh, iya, Gomawo, Oppa. Annyeong!!!”

    Donghae menahan tangan Jira sebelum Jira menutup pintu mobil. “Saranghae. Kuharap kita bisa meluangkan waktu lebih banyak nanti”.

    Jira mengangguk sambil tersenyum. “Nado saranghae, Oppa. As I said before, I’m always here for you. Tenang saja, kita pasti bisa meluangkan waktu lebih banyak lain kali. Annyeong!!!”

[HyukRi] End Of Our Story

Posted on

Hyukjae sekali lagi memandangi 2 tiket drama musikal yang ada di genggaman tangannya. Selama sebulan ini ia ditugasi atasannya untuk mengurusi cabang perusahaan tempatnya bekerja yang ada di Cina dan rencananya hari Minggu nanti ia ingin menghabiskan waktu bersama istri tercintanya, Park Gyuri.
“Hyukjae-sshi, aku mau bicara sebentar.”
Belum sempat ia mengucapkan sepatah katapun, Gyuri sudah muncul di belakangnya. Tumben sekali Gyuri tidak memanggilnya Monkey.
Hyukjae berjalan mendekati Gyuri dan membelai kepala istrinya itu dengan penuh kasih. “Kau mau bicara apa, Goddess?”
“Tolong tandatangani dokumen ini,” kata Gyuri dingin.
Hyukjae mengerutkan keningnya. Belum pernah Gyuri berkata sedingin ini padanya. “Apa ini?” tanya Hyukjae sambil mengambil dokumen yang ada di tangan Gyuri.
“Surat gugatan cerai. Aku minta cerai.”
Dunia Hyukjae seakan runtuh mendengarnya. “Ne, apa kau bilang, Goddess?” katanya sambil tersenyum getir.
“Aku sudah mengatakannya dengan sangat jelas. Jangan minta aku untuk mengulanginya lagi!”
“Tapi apa salahku? Apa salah hubungan kita? Kenapa begitu mendadak?” kata Hyukjae sambil memegang tangan Gyuri erat-erat.
“….”
Tak ada jawaban. Gyuri hanya diam mematung menundukkan kepalanya.
“AYO JAWAB AKU!!” bentak Hyukjae. “Oh, aku tau. Pasti karena dokter itu kan? PARK JUNGMIN? BENAR? DOKTER TAMPAN YANG DULU SELALU MENJADI PUJAANMU. Kau pasti bahagia akhirnya dia pulang ke Korea. Jangan-jangan selama aku ke Cina kau berselingkuh dengannya.”
“Kalau iya kenapa? Tandatangani saja dokumen itu,” kata Gyuri cepat sambil meninggalkan Hyukjae di kamar mereka.
“Tunggu. Biar aku tandatangani dulu kertas bodoh ini.” Hyukjae segera menandatangani berkas yang ada di genggaman tangannya dan melemparkannya tepat di wajah Gyuri. “Aku harap kau segera meninggalkan rumahku, Nona Park Gyuri yang terhormat. Dulu kau memang seorang Goddess bagiku tapi sekarang, kau tak lebih dari pelacur murahan!!!”
Gyuri tak berkata apapun dan mengambil berkas yang terjatuh di lantai. “Aku sudah membereskan barangku dan besok aku akan pulang ke rumah orangtuaku. Kau tidak perlu khawatir, Oppa…”
“JANGAN PERNAH PANGGIL AKU DENGAN SEBUTAN ITU!! AKU JIJIK MENDENGARNYA!!” bentak Hyukjae lagi.
“Benarkah? Kupikir dulu kau selalu memintaku memanggilmu begitu. Dan bukan salahku kalau meninggalkanmu demi Jungmin Oppa. Tidak ingatkah kau akan perkataanmu dulu saat melamarku? Kau memaksaku menerimamu dan melupakan Jungmin Oppa karena kau berjanji kalau kau bisa membuatku jatuh cinta padamu dan melupakan Jungmin Oppa. Perkataanmu tidak terbukti. Aku pikir satu tahun cukup untukmu membuktikan perkataanmu tersebut. Selama satu tahun pernikahan kita kau tidak bisa membuktikannya kan? Wajar aku minta cerai sekarang.”
Hyukjae menelan ludah mendengar perkataan Gyuri. “Neo! Aku… Kau… Kau sungguh egois, Park Gyuri!!”
“Aku … atau kau yang egois di sini, Lee Hyukjae?”
“Kalau begitu kenapa kau selalu bersikap manis dan baik selama pernikahan kita? Membuatku berpikir kalau aku sudah membuatku jatuh cinta padaku.”
“Itu salah satu usahaku untuk mencoba mencintaimu. Usaha yang gagal sayangnya…” kata Gyuri mengakhiri pembicaraan mereka dan menutup pintu kamar dengan keras.
Hyukjae meremas tiket yang ada di genggamannya dan melemparnya ke perapian. “SIALAN KAU PARK GYURI!!!!” teriaknya. Emosinya sudah tak tertahankan. Air matanya meluncur keluar. Ia melempar semua barang yang ada di kamarnya. “Aku tidak menyangka aku akan kehilanganmu dengan cara yang seperti ini. Selama ini aku sudah berusaha keras, My Goddess. Aku mencintaimu melebihi apapun. Aku tidak mau kau pergi meninggalkanku demi dokter tampan itu. Cih!! Kenapa ia harus kembali ke Korea!! Kenapa pesawatnya tidak jatuh saja!! PARK JUNGMIN BANGSAT!! PENGGANGGU HUBUNGAN ORANG!! PERGI KAU KE NERAKA!!” racau Hyukjae sambil menenggak sebotol wine yang ia simpan di lemari kamarnya.
Dengan sempoyongan ia menarik foto besar yang terpajang di atas ranjangnya. Di foto itu terlihat ia menggendong dan mencium pipi Gyuri dengan mesra. Gyuri memejamkan matanya dan tersenyum malu. Foto pernikahan yang dulu selalu menentramkan hatinya. Selalu mengingatkan betapa beruntungnya dia memiliki seorang Goddess sebagai istri.
Dan dengan satu sentakan, foto itu hancur berkeping-keping.

**********

FLASHBACK

Hyukjae tiba di kantin dengan nampan ditangannya dan memandang berkeliling mencari meja kosong. Kedua sahabatnya yang mengapit dirinya, Lee Donghae dan Kim Hyoyeon, melakukan hal yang sama.
Kantin sudah penuh terisi wajah-wajah kelaparan murid Neul Paran High School. Keributan terjadi di sana-sini.
Hyukjae memandangi nampannya yang penuh makanan dan menelan ludah. “Ya! Aku sudah lapar sekali. Apakah kalian sudah menemukan tempat?” tanya Hyukjae sambil mengelus perutnya. Matanya kembali menjelajah mencari bangku kosong walaupun tampaknya itu hal yang mustahil. Kali ini pandangannya terhenti pada bangku yang hanya terisi dua orang di sudut. Ia baru akan memanggil dua sahabatnya sampai akhirnya dia menyadari siapa yang sedang duduk di sana, Park Gyuri dan Park Jungmin. Dua manusia paling populer di sekolah ini. Hampir semua orang di sekolah ini menganggap mereka pasangan sempurna dan menjuluki mereka Park Couple. Semua orang kecuali Hyukjae, ia membenci pasangan tersebut karena ia pikir lelaki sempurna untuk Gyuri hanyalah dirinya. “Cih, selalu saja…” gumamnya. Ia tidak mengerti kenapa Park Gyuri senang sekali menghabiskan waktunya berduaan dengan salah seorang sunbae mereka, Park Jungmin. Ia tahu Jungmin bukanlah pacar Gyuri, tapi kenapa mereka selalu saja berdua tak terpisahkan. Ia bertanya-tanya apa sajakah kelebihan Park Jungmin. Oke, pria itu adalah seorang murid kelas 2 yang bagaimana jeleknya pun selalu terlihat keren dimata murid kelas 1, salah seorang siswa tertampan di Neul Paran, pintar, kaya, dan memiliki suara merdu. Berbeda jauh dengan Lee Hyukjae, seorang murid kelas satu yang biasa-biasa saja, tidak tampan, tidak pintar, berasal dari keluarga yang sederhana saja namun pandai menari. “Beda tipis lah…” gumam Hyukjae lagi.
“Bagaimana kalau meja di sudut itu? Cuma dua orang yang menempati, masih cukup kalau kita mau makan di sana,” celetuk Donghae. “Tidak ada tempat lagi selain di sana.”
Hyukjae mengangguk semangat. Kapan lagi ia bisa makan semeja dengan Goddess nya. “Bagaimana Hyo? Kau mau tidak?” tanyanya.
Hyoyeon hanya mengangguk lalu mengikuti Donghae dan Hyukjae yang sudah berjalan duluan.
“Permisi, bolehkah kami bergabung di sini?” tanya Hyukjae pada Gyuri.
Gyuri menggeleng tegas.
“Tentu saja boleh, silahkan…” jawab Jungmin ramah.
“Kamsahamnida, Jungmin sunbae…” kata Hyukjae sambil tersenyum ramah. “Kenapa harus manusia ini yang menjawab sih…” gumamnya.
“Oppa, kenapa kau membiarkan mereka menggangu makan siang kita? Aku ingin makan siang berdua denganmu saja, Oppa,” kata Gyuri manja.
Oppa? Hyukjae hampir tersedak mendengarnya. Bagaimana bisa Goddess nya memanggil manusia itu dengan sebutan Oppa? “Harusnya panggilan itu untukku, bukan untuk Jungmin,” pikir Hyukjae. Ia juga heran melihat perubahan drastis Goddess yang ada di sampingnya ini. Selama di kelas Gyuri selalu bersikap kaku, angkuh, susah didekati, sombong. Tapi bagaimana bisa ia bermanja-manja bila di depan Jungmin.
“Mereka teman sekelasmu kan, Gyuri? Kau tidak boleh bersikap begitu,” kata Jungmin.
“Monyet ini dan teman-temannya bukanlah temanku!” kata Gyuri sambil menunjuk Hyukjae, Donghae, dan Hyoyeon.
“YA! Beraninya kau memanggil Eunhyuk dengan sebutan Monyet!!” kata Hyoyeon dengan nada tinggi.
“Kau tidak usah membentakku seperti itu Nona Hyoyeon yang terhormat. Kau lihat saja kelakuan temanmu itu. Bodoh, selalu menari tidak jelas, persis seperti monyet!” jawab Gyuri tenang.
“Kau mau aku cekik ya?” tantang Hyoyeon.
“Tuh kan, Oppa. Lebih baik kita pindah saja. Mereka hanya sekelompok orang barbar. Liar, bodoh, tidak sopan. Pantas saja guru-guru selalu menegur mereka!”
“Aku pernah bilang kau harus lebih akrab dengan teman-temanmu kan?” tanya Jungmin lembut pada Gyuri.
“Kau ingat aku sudah punya empat teman akrab, Seungyeon, Hara, Nicole, dan Jiyoung. Ingat kan, Oppa?” tanya Gyuri gemas.
Jungmin mengangguk dan tersenyum melihat tingkah Gyuri. “Ne, ne, aku ingat kok.”
“Kalau begitu, aku tidak perlu mengakrabkan diri dengan sekumpulan orang liar seperti mereka, ayo pergi, Oppa!”
“Cih, aku tidak menyangka Goddess mu ternyata bisa begitu menyebalkan” sindir Donghae pada Hyukjae.

**********

Gyuri nampak tersenyum dan menggandeng lengan Jungmin. Hari ini adalah sidang cerai mereka. Hyukjae berharap hal ini tidak akan terlalu berbelit-belit seperti yang selalu terjadi pada artis-artis yang bisa berkali-kali melakukan sidang. Ia tidak tahan bila harus melihat pemandangan seperti itu berulang kali. Tapi ia sadari ada sesuatu yang berbeda dari Gyuri. Wajahnya terlihat sangat pucat. Walaupun Gyuri sepertinya mencoba menutupi hal itu dengan make up tebal, Hyukjae masih mengetahui hal tersebut.
“Hyo, kau lihat Gyuri di sana? Kenapa dia keliatan pucat ya?” tanya Hyukjae pada Hyoyeon. Hyukjae sengaja meminta Hyoyeon untuk menemaninya hari ini. Ia tidak yakin bisa melewati semuanya sendirian.
“Hmm, senyumnya juga tidak secerah biasanya. Tapi itu hal yang wajar mengingat apa yang akan kalian lakukan di sini. Kau sendiri coba bercermin. Wajahmu tak kalah pucatnya Eunhyuk-ah.”
“Benarkah? Waw, aku tak menyangka aku akan segugup ini…”
“Kau masih amat mencintainya, kan?” tanya Hyoyeon.
“Hahaha, sampai kapan pun, aku akan terus mencintainya, Hyo. Dia akan terus menjadi Goddess ku,” jawab Hyukjae.
Hyoyeon menatapnya kaget. “Bahkan setelah yang ia lakukan padamu? Kau masih bilang kau sangat mencintainya dan menganggapnya Goddess?”
“Maksudmu? Kau tau aku sudah sangat memujanya sejak aku pertama melihatnya. Aku tidak akan pernah bisa membencinya sampai kapanpun, Hyo. Kau akan mengalami perasaan ini suatu saat nanti.”
Hyoyeon mendecakkan lidah. “Kau terlalu berlebihan. Kau seharusnya membenci wanita itu sekarang. Sangat benci sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata!”
“Bukankah waktu dulu kau selalu mengingatkan aku agar tidak mudah membenci orang?”
“Tapi dalam hal ini kasusnya beda, Eunhyuk-ah!! Gyuri sudah berselingkuh, bahkan rela minta cerai hanya untuk pria itu!! Kau patut membencinya!!”
“Ya! Kau tidak usah mengingatkan aku pada hal itu lagi! Aku ingin melupakan hal itu selama-lamanya!!”
“Kau yakin bisa melupakan hal itu hah? Sebagai sahabatmu aku tau kau akan terus menyimpannya dan sakit hati sampai tua.”
“Telpon Donghae, kalau ia tidak bisa menemaniku sekarang ia harus datang ikut kita minum-minum nanti malam!!”
“Ne?”
“Kau dengar perkataanku tadi kan, Hyo. Aku tak perlu mengulangnya lagi…” kata Hyukjae.
“Mwo? Minum-minum? Nanti malam?”
“Aku ulang lagi ya, tolong telpon Donghae, suruh dia ikut kita minum-minum nanti malam…” sahut Hyukjae.
“Aku tidak mau kau melampiaskan kesedihanmu dengan minum-minum, Eunhyuk-ah! Seorang Lee Hyukjae yang kukenal tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu!!” kata Hyoyeon.
“Oh, ayolah, Hyo. Sekali ini saja. Aku tidak tau lagi apa yang harus kulakukan, kau tidak mau aku bertindak nekat seperti melompat dari apartemen ku kan?”
“Neo!!! Jangan coba-coba melakukan itu!! Jeongmal baboya!!”
“Kalau begitu cepat lakukan yang kuminta. Aku tidak akan minta apa-apa lagi padamu setelah ini…”
“Ne, ne, ne, aku akan melakukannya. Kau tahu aku tidak akan pernah bisa menolak permintaanmu. Sudah sana masuk, sidangnya sudah mau dimulai,” potong Hyoyeon sambil cepat-cepat mendorong temannya masuk ke ruang sidang.
“Gomawo, Hyo-ah. Saranghae, hehehe…”.
Pipi Hyoyeon memerah. Ia harap Eunhyuk nya serius mengatakan hal tadi. Ia memang sudah sejak dulu memendam perasaan pada sahabatnya tersebut. Namun sayang, sepertinya seluruh cinta seorang Lee Hyukjae hanya tercurah untuk seorang Park Gyuri, bukan Kim Hyoyeon. Bahkan di saat Gyuri menyakiti hatinya, Eunhyuk tersayang Hyoyeon masih bisa mengatakan kalau ia masih mencintai Goddess nya. “Lihat aku, Eunhyuk-ah. Aku akan membuktikan padamu kalau aku jauh lebih baik dari Goddess mu itu…” gumam Hyoyeon dalam hati. “Kau akan menyadarinya suatu saat nanti. Kau akan mencintaiku seorang!”

**********

FLASHBACK

Acara perpisahan kelas 3 sudah berakhir dan isak tangis terdengar disana-sini. Hyukjae menguap bosan mendengar kata-kata perpisahan yang menurutnya agak berlebihan. Bagaimana bisa kakak-kakak kelasnya itu menangis saat meninggalkan sekolah. Ia yakin saat lulus tahun depan tidak ada satu tetes air matapun yang keluar dari matanya, melainkan senyum kemenangan akan selalu terpancar di bibirnya.
Hyukjae agak terperangah saat melihat Gyuri menangis sesenggukan di dalam aula yang kini sudah kosong. Tidak ada Jungmin di sampingnya. “Kesempatan emas…” gumam Hyukjae.
“Annyeong!!” sapa Hyukjae ramah dan mengibas-ngibaskan balon yang ia curi. Seharusnya balon itu tergantung di depan pintu aula.
Gyuri mendongakkan kepalanya dan melihat Hyukjae sekilas. Bukannya mereda, tangisnya malah semakin menjadi-jadi. “Huaaaaa, Oppaaaa…..” jeritnya.
Hyukjae membekap mulut Gyuri dengan panik. “Sssst, jangan teriak-teriak!! Nanti orang-orang mengira aku berbuat jahat padamu!!! Ayolah, Uljima, My Goddess. Berjanjilah kau akan berhenti menangis, baru aku akan melepaskan bekapanku.”
Gyuri mengangguk dengan cepat.
Perlahan, Hyukjae melepaskan bekapannya dan mundur beberapa langkah.
Gyuri mengusap air matanya dan melihat Hyukjae yang tengah tersenyum lebar dan melambai-lambaikan tangannya yang sedang menggenggam balon.
Hyukjae kemudian melepas jaket dan syal putih yang dikenakannya dan memakaikannya ke Gyuri. “Kenapa kau tidak memakai jaket dan syalmu? Cuaca hari ini sedang dingin sekali, My Goddess…”
Gyuri hanya diam.
Kemudian Hyukjae mulai bernyanyi, ia bermaksud menghibur Gyuri dengan nyanyiannya. Walaupun sebenarnya kemampuan menarinya jauh lebih baik dari suaranya, ia tahu Gyuri membenci tariannya, oleh karena itu, ia memutuskan untuk bernyanyi.
Gyuri memandanginya dengan tatapan aneh.
Merasa aneh dipandangi seperti itu akhirnya Hyukjae menghentikan nyanyiannya dan balik menatap Gyuri. “Wae? Kau baru mendengar suara merdu seperti suaraku?”
Gyuri mengalihkan tatapannya ke arah lain.
“Ya!! Jawab aku!!” kata Hyukjae sambil mengibas-ngibaskan balonnya.
“Suaramu sangat jelek, Monkey! Merusak telinga! Aku lebih suka suara Jungmin oppa!! Aku tidak habis pikir kenapa kau berani sekali memamerkan suara jelekmu itu di depanku yang kau sebut Goddess!”
Mendengar hal itu, Hyukjae malah melanjutkan nyanyiannya yang sempat tertunda tadi.
“YA! YA! YA! Kubilang hentikan nyanyianmu!!!”
Hyukjae terus bernyanyi dan tidak memperdulikan Gyuri yang berusaha memotong nyanyiannya. Ia tidak memikirkan apakah suaranya bagus atau tidak. Ia hanya tidak suka saat Gyuri membanding-bandingkan suaranya dengan suara Park Jungmin, seseorang yang sangat dibenci Hyukjae.
Gyuri terus saja meminta Hyukjae menghentikan nyanyian yang menurut Gyuri suah tidak karuan nadanya. Hingga akhirnya ia merasa capek dan bergegas meninggalkan Hyukjae.
Hyukjae segera menarik tangan Gyuri mencegah gadis itu benar-benar pergi meninggalkannya. “Ya! Goddess! Kau mau kemana?”. Hyukjae menarik gadis itu dan memaksa Gyuri duduk di sampingnya. “Ada apa denganmu, Goddess?”
Gyuri menatap Hyukjae dan menarik tangannya mencoba melepaskan diri dari genggaman Hyukjae. “Lepaskan aku, Monkey!!”
“Shireo!!”. Hyukjae malah tersenyum lebar dan mengeratkan genggaman tangannya.
Gyuri mulai menangis lagi. “Kumohon, lepaskan tanganku! Kenapa kau suka sekali mengangguku?” tanyanya gusar.
Senyum Hyukjae mulai pudar. Ia benar-benar bingung dengan gadis yang ada di hadapannya sekarang. Gyuri yang ada di depannya sama sekali berbeda dengan Gyuri yang selama ini ia kenal.
“Kutanya sekali lagi. Ada apa denganmu?” tanya Hyukjae. “Kau takut tahun depan kehilanganku ya?” candanya.
Gyuri bertanya-tanya dalam hati, bisa-bisanya monyet bodoh ini mengajaknya bercanda di situasi seperti ini. Yang ia inginkan sekarang hanyalah pergi dari hadapan monyet tengik itu karena ia sudah lelah setelah sekian lama menangis dan ia ingin menata perasaannya dulu.
“Kau harus menceritakannya dulu padaku, baru aku mau melepaskanmu…” kata Hyukjae.
“Jungmin oppa pergi meninggalkanku. Tadi pagi dia pergi ke London untuk melanjutkan kuliah kedokteran di sana tanpa pamit denganku. Aku sendirian sekarang!!!”
“Kau kan masih punya Seungyeon, Hara, Nicole, dan Jiyoung. Tidak perlu sesedih itu…” hibur Hyukjae. Hatinya dongkol mengetahui kalau Goddes nya ternyata menangis karena Jungmin. “Pantas tadi dia nangis manggil-manggil Oppa,” pikir Hyukjae.
“Mereka sudah sibuk dengan pacar mereka masing-masing sekarang. Aku ditinggal sendiri. Tidak ada yang mau berteman denganku. Selalu begitu, dari kecil semua orang menganggapku sombong. Padahal aku tidak bermaksud begitu,”. Air mata kembali membanjiri pipi Gyuri.
“Uljima, Goddess. Aku mau menjadi temanmu, kok.”
“Kau mengatakan begitu lalu sedetik setelah kau mendapatkan pacar kau akan meninggalkanku sendiri.”
“Jadi, kalau ingin menjadi temanmu, aku tidak boleh punya pacar, begitu?”
“Ne, kecuali kalau aku sudah punya pacar. Baru kau boleh punya juga.”
“Kau sungguh egois, Goddess. Walaupun aku punya pacar, aku janji aku tidak akan meninggalkanmu begitu saja, kok.”
Gyuri menggeleng-gelengkan kepalanya. “Semua temanku bilang begitu awalnya. Lalu lihat yang mereka lakukan sekarang…”
“Baiklah, aku janji tidak akan punya pacar sebelum kau punya pacar. Aku akan mencoba menjadi teman terbaik untukmu.”
“Janji?”
“Eunhyuk-ah! Aku mau bicara sebentar!!” panggil Hyoyeon.
Hyukjae menoleh ke arah datangnya suara. “Hyo? Ada apa?”
“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Bisakah kau ke sini sebentar?”
“Kau saja yang ke sini, Hyo. Aku sedang sibuk menghibur Goddess yang kesepian,” jawab Hyukjae.
“Tapi, aku ingin bicara berdua saja. Kumohon…”
“Sudahlah, di sini saja tidak apa-apa kok.”
Akhirnya Hyoyeon menyerah dan berjalan mendekati Hyukjae dan Gyuri.
“Nah, apa yang ingin kau katakan?” tanya Hyukjae sambil menggeser posisi duduknya mendekati Hyoyeon.
“E…Eunhyuk-ah…sa…sa…saranghae. Maukah kau menjadi pacarku?”
Walaupun Hyoyeon mengatakannya dengan sangat cepat. Kalimat tadi tetap terdengar cukup jelas di telinga Hyukjae dan Gyuri. Hyukjae mengalihkan pandangannya ke Gyuri.
Gyuri hanya tersenyum tipis. “Aku tau waktu ini akan datang, lebih cepat, lebih baik,” katanya pelan dan melepaskan genggaman Hyukjae.
Hyukjae kembali menatap Hyoyeon yang sepertinya sedang bingung dengan apa yang terjadi. “Mian, Hyo-ah, tapi aku harus menepati janjiku pada Goddess…”

**********

Ketika Donghae sampai di parkiran apartemen Hyukjae, ia segera memarkirkan mobilnya dan naik ke lantai 13. Hyoyeon sudah menghubunginya berungkali memintanya segera datang karena menurut Hyoyeon, Hyukjae sudah mabuk berat dan ia tak sanggup menanganinya sendiri.
“Yobseyo, ne, Hyo-ah, tunggu sebentar. Aku sudah sampai di parkiran.”
“….”
“Bagaimana keadaan Hyukjae?”
“…”
“Ne, aku sudah di depan lift, tunggulah beberapa detik lagi.”
“…”
“Ne, annyeong…”
Ketika akhirnya ia sampai di depan pintu apartemen Hyukjae dengan terengah-engah karena berlari dari parkiran sampai lift, lalu berlari lagi ke depan pintu itu, Hyoyeon terlihat terkejut melihat Donghae yang terlihat sangat capek. Donghae mencoba mengatur napasnya yang masih tak beraturan dan menyapa Hyoyeon singkat, ia memberikan sekantong obat-obatan dan entah apa saja yang asal ia beli di apotek saat mengetahui kalau Hyukjae sedang mabuk berat.
Hyoyeon segera menyuruh Donghae masuk sambil memandang heran bungkusan yang ada di tangannya sekarang.
“Apa saja yang kau beli ini? Kau pikir Hyukjae sakit parah sampai hampir mati? Ia hanya mabuk berat dan aku memintamu ke sini hanya untuk membantuku mengurusnya yang terus muntah-muntah sambil meracau tidak jelas daritadi,” kata Hyoyeon sewot. “Pemborosan, ckckckck…”. Ia tidak memedulikan Donghae yang kelihatannya masih sangat kecapekan.
Donghae menyenggol sikut Hyoyeon. “Mana Hyukjae?”
Tak butuh jawaban Hyoyeon, Donghae akhirnya mendengar suara orang muntah-muntah di kamar mandi apartemen yang sudah sangat Donghae hapal letaknya. Ia mengambil handuk kecil yang kelihatannya masih bersih di dapur dan berjalan ke arah datangnya suara. Saat menemukan Hyukjae yang tengah terduduk lemas di bawah westafel kamar mandi, ia menyodorkan handuk kecil itu ke sahabatnya tersebut.
Tak ada tanggapan dari Hyukjae.
Kemudian, dengan senyumnya yang khas, Donghae mengambil kembali handuk itu dan membersihkan bekas muntahan di sekitar mulut Hyukjae dengan handuk tersebut.
Tiba-tiba mata Hyukjae terbuka, membuat Donghae terkejut. Hyukjae langsung meraih dan meremas tangan Donghae yang sedang membersihkan mulutnya, Donghae terperanjat dibuatnya. “Aku bisa membersihkannya sendiri, Hae-ya,” kata Hyukjae lemah sambil mencoba tersenyum.
“Gomawo sudah datang, Hae-ya. Jeongmal gomawoyo. Saranghae, kau memang sahabat terbaikku, hahaha…” seru Hyukjae tiba-tiba.
Di dalam hati Donghae tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan sahabatnya tersebut. Baru kali ini di hidupnya ia melihat seorang Lee Hyukjae mabuk.
Ketika membantu Hyukjae berjalan ke ruang tamu, Donghae melihat Hyoyeon berdiri dengan tampang cemas tak jauh dari tempat ia dan Hyukjae berdiri sekarang.
Hyoyeon berjalan mendekati mereka.
Donghae memandang Hyoyeon dengan tatapan seolah tidak ada ada yang harus dikhawatirkan dan mendudukkan Hyukjae di salah satu sofa di ruangan tersebut.
Hyoyeon menundukkan badannya sedikit untuk memeriksa keadaan Hyukjae yang kini nampaknya sedang tertidur lelap.
Donghae tersenyum dan mengelus kepala Hyukjae. “Kau benar. Ia baik-baik saja, Hyo-ah. Apa yang membuatnya mabuk-mabukan begini? Perceraiannya dengan Goddess kebanggaannya?”
Hyoyeon mengangguk singkat. “Tentu saja, apalagi kalau bukan itu?”
Tiba-tiba Hyukjae bangkit dari duduknya.
“Ya! Eunhyuk-ah! Kau mau kemana?” tanya Donghae.
Eunhyuk memamerkan senyumnya. “Sepertinya setelah mengeluarkan semua minuman tadi, mabukku sudah berkurang. Aku mau ke kamar sebentar, kalau kau mau pulang, pulang saja, Hae. Aku tau pasti kerjaan mu masih menumpuk. Mian sudah merepotkanmu.”
“Baiklah kalau begitu. Mau kuantar, Hyo?”
“Kau jangan pulang dulu, Hyo-ah. Ada yang mau kubicarakan denganmu. Tunggu sebentar disitu…”
“Kau pulang saja duluan, Hae. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula rumahku kan tidak jauh dari sini.”
Donghae mengangguk ragu dan akhirnya memutuskan untuk pulang duluan. Hyukjae benar, pekerjaannya memang sedang menumpuk, itulah sebabnya ia tidak bisa menemani Hyukjae tadi siang dan datang terlambat ke acara minum-minum tadi.
Setelah beberapa menit Hyoyeon menunggu, Hyukjae akhirnya keluar dari kamarnya membawa sebuah kotak beludru kecil berwarna biru.
“Would you marry me, Hyo?” tanya Hyukjae sambil berlutut di depan Hyoyeon.
Mata Hyoyeon terbelalak. “Mwo? Kau masih mabuk ya?”
“Kumohon, jadilah istriku, aku harusnya tau kalau kaulah yang terbaik untukku, Hyo-ah.”
Hyoyeon meleleh mendengar perkataan Hyukjae. Inilah yang selalu ingin ia dengar keluar dari mulut seorang Lee Hyukjae.
“Jadi apa jawabanmu, Hyo?”
“Ne, I do…”

**********

FLASHBACK

Acara tanda tangan penulis buku favorit Gyuri sudah selesai 15 menit yang lalu. Tempat acara tadi diadakan sudah sepi. Gyuri mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu kontak di ponselnya.
“YA! MONKEY! Kau niat mau menjemputku tidak sih?”
“Tunggu sebentar lagi, Goddess ku sayang…” jawab suara di seberang sana.
“Aku sudah 15 menit menunggu mu di sini. Kalau dalam 5 menit kau tidak datang, aku akan pulang sendiri!”. Gyuri langsung memutuskan hubungan telponnya dan bersandar di salah satu dinding di dekat pintu masuk acara tanda tangan tadi.
“Wah, aku tidak menyangka kau masih menungguku di sini, Goddess,”. Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sudah sangat familiar di telinga Gyuri.
“Akhirnya kau datang juga, Monkey. Cepat sekali! Sepertinya aku harus memberikan hadiah untukmu,” kata Gyuri dengan nada ramah. “Ayo, kita duduk dulu…”.
“Apa? Apa hadiahnya?”. Hyukjae begitu bersemangat sampai tidak berhenti bergerak-gerak di tempat duduknya. “Kau serius mau memberiku hadiah, Goddess? Tumben kau baik sekali. Wah, padahal tadi aku kira kau mau memarahiku habis-habisan. Syukurlah…”
“Tutup matamu!!” jawab Gyuri datar.
“AH! Jangan-jangan kau mau menciumku ya? Ya ampun Goddess, bagaimana kalau berdiri saja? Aku takut bangku ini akan patah. Aku terlalu bersemangat sampai-sampai tidak bisa diam,”. Hyukjae bangkit dan berdiri di samping Gyuri. Ia menutup matanya dan membayangkan Gyuri yang akan menghadiahkan sebuah ciuman untuknya.
Kepala Gyuri langsung menoleh ke arah Hyukjae. Ia memandang Hyukjae dengan tatapan jijik. “Bagaimana bisa ia berpikir aku akan memberinya hadiah sebuah ciuman?” tanya Gyuri dalam hati.
Hyukjae tiba-tiba menyadari kalau ada sesuatu yang salah. Gyuri yang selama ini selalu bersikap acuh tak acuh padanya tak mungkin tiba-tiba memberinya sebuah ciuman. Ia akhirnya buru-buru berkata, “Ah, aku salah ya, Goddess? Mian, aku cuma asal tebak tadi,”. Hyukjae membuka matanya dan menatap Gyuri. “Biasanya di film-film kalau seorang yeoja menyuruh namjanya menutup mata, tak lama kemudian yeoja itu akan mencium namja nya,”. Ia tersenyum tipis. “Kalau dalam kasus ini sepertinya beda. Tak mungkin kau mau mencium ku.”
Gyuri tersenyum serba salah. Tadinya ia ingin menyuruh Hyukjae menutup mata dan menampar monyet itu karena sudah telat menjemputnya. Namun melihat ekspresi Hyukjae yang begitu, entah kenapa ia jadi tak tega melakukannya. “Mungkin kau sedikit benar,” kata Gyuri ragu. “Aku memberikan hadiah ini sebagai rasa terima kasihku karena kau sudah sabar menghadapi aku yang sangat egois. Dari kelas 2 SMA, sampai kita kuliah sekarang,”. Kata-katanya terhenti. “Hey, apa yang kukatakan? Memang aku mau memberikannya apa? Lagipula bisa-bisanya aku berkata begitu,” pikir Gyuri. “Tutup matamu sekarang!” kata Gyuri sambil menahan napas.
Begitu Hyukjae menutup mata, Gyuri mendaratkan sebuah kecupan kilat di pipi Hyukjae. Ingin sekali Gyuri mengubah identitasnya seketika begitu ia menyadari apa yang sudah ia lakukan.
Hyukjae membuka mata dan bertanya-tanya apakah ia sedang bermimpi. Ia masih tak percaya seorang Park Gyuri mau mencium pipinya. Ia mengambil sapu tangan dari saku jaketnya dan menghapus keringat dingin yang ternyata sudah mengucur daritadi di keningnya. Ia bagaikan melayang di langit ke tujuh sekarang.
Gyuri merasa perasaannya sedang diacak-acak sekarang. Ia tidak tahu kenapa perasaan ini bisa timbul, yang ia tahu, perasaan begini hanya muncul dulu, saat Jungmin Oppa nya masih di sampingnya.
Tiba-tiba sebuah bola mengenai kepalanya. “Aw!!!”
“Gwenchana, Goddess?” tanya Hyukjae. Hyukjae mengambil bola itu dan melemparkannya kembali ke pemilik bola. “YA! LAIN KALI HATI-HATI SEDIKIT! BOLA KALIAN MENGENAI KEPALA PACARKU YANG CANTIK INI TAU!!” seru Hyukjae.
Gyuri kaget saat mendengar perkataan Hyukjae tadi. “Pacar?” desis Gyuri. “Apa maksudmu menyebutku pacarmu, Monkey?”
“Hahaha, aku hanya bercanda tadi, sudah ayo kita duduk lagi saja. Aku ingin bersantai di sini sebentar,” kata Hyukjae yang disambut gumaman tak jelas dari Gyuri. Entah apa yang digumamkan Gyuri, Hyukjae tak bisa mendengarnya karena Gyuri menggumamkannya dengan pelan dan cepat. Lagipula kalau Gyuri mengatakan sesuatu baik itu menyenangkan atau tidak, nadanya akan tetap datar. Berbeda kalau ia mengatakan sesuatu pada Jungmin, ekspresi senang atau sedih bisa tertangkap dari nada bicaranya.
“Ngomong-ngomong, bisakah kau berhenti memanggil ku Monkey?” tanya Hyukjae sambil menggandeng Gyuri ke tempat ia memarkirkan sepeda kesayangannya.
“Kenapa? Kau tidak suka?” tanya Gyuri cuek.
“Bukan, hanya saja, sepertinya akan lebih bagus kalau kau memanggilku Oppa.”
“Kau tidak cocok dipanggil Oppa! Lagipula, kita kan seumuran. Kenapa aku harus memanggilmu Oppa? YA! MONKEY! Jangan bilang kau akan mengantarku pulang dengan sepeda!!” teriak Gyuri.
“Memangnya aku bisa mengantarmu dengan apalagi? Hanya kendaraan ini lah yang aku punya. Kau baru tahu ya? Ayo naik. Lagipula lebih romantis kalau kita berboncengan naik sepeda daripada naik mobil. Hyoyeon selalu mengatakannya padaku,” kata Hyukjae sambil menarik tangan Gyuri agar gadis itu mau duduk di boncengannya.
“Pantas tadi kau telat, rumah gadis itu dengan tempat ini lumayan jauh, lalu kau naik sepeda. Fyuh…”
“Darimana kau tahu kalau aku habis dari rumah Hyoyeon?” tanya Hyukjae heran sambil mulai mengayuh sepedanya.
“Kau kan selalu ke rumahnya.”
“Oh, jadi ceritanya kau cemburu?” goda Hyukjae.
“Terserah mu lah…”
“Oke, kalau kau tidak mau menjawab. Kita kembali ke topik awal. Kenapa kau selalu memanggilku Monkey?”
“Kenapa kau selalu memanggilku Goddess?”
“Karena kau memang seperti Goddes untukku. Hey, kenapa jadi aku yang menjawab pertanyaanmu! Cepat jawab pertanyaanku Goddess!!”
“Pernahkah kau bertanya pada gadis itu kenapa ia memanggilmu Eunhyuk?”
“Ehm, tidak pernah…”
“Kalau begitu kenapa kau menanyakan hal ini padaku?”
“Ya ampun, Goddess. Tolong jawab saja pertanyaanku!” kata Hyukjae sambil menghentikan sepedanya. Ia turun dan berdiri menatap Gyuri dalam-dalam.
“Baiklah, baiklah. Begini, kalau gadis itu memiliki panggilan khusus untukmu, kenapa aku tidak boleh memiliki panggilan khusus untukmu juga?”
“Setidaknya nama panggilan Hyo untukku bagus, Eunhyuk. Sedangkan panggilan darimu itu kan artinya…”
“Kau memang lebih menyukai apapun dari gadis itu!” kata Gyuri yang tanpa sadar mengerutkan keningnya.
Senyum Hyukjae mengembang. “Kau memang cemburu, Goddess. Akui saja hal itu…”

**********

“YA, EUNHYUK! IREONA!!” seru Donghae sekeras-kerasnya, berusaha membangunkan sahabatnya yang tengah terlelap sambil melambai-lambaikan kedua tangannya ke depan wajah Eunhyuk. “YA! MONYET PEMALAS!! CEPATLAH BANGUN!! KAU AKAN TELAT KE PERNIKAHANMU KALAU DALAM 10 MENIT MASIH BELUM BANGUN JUGA!!” seru Donghae lagi.
“Mungkin masih sempat kalau aku tidur 15 menit lagi. Acara dimulai masih beberapa jam lagi kan? Lagipula kenapa kau bisa ada di sini? Aku tidak ingat menelponmu untuk ke sini semalam, dan darimana kau mendapatkan kode masuk apartemenku? Tapi ya sudahlah, kau sudah ada di sini. Tolong siapkan perlengkapanku dong, jadi saat aku bangun nanti aku tinggal memakainya saja,” jawab Hyukjae dengan mata terpejam. “Eh, tunggu, jangan-jangan selama ini kau sering menyusup masuk ke apartemenku ya?” tanya Hyukjae lagi.
Terdengar Donghae menggumamkan sesuatu yang tidak bisa Hyukjae tangkap artinya satu katapun sementara mata Donghae terus melihat ke kanan dan ke kiri. “Jawab aku!” kata Donghae mengakhiri gumamannya.
“Aku akan menjawabnya nanti,” jawab Hyukjae cuek. Bagaimana bisa ia menjawabnya kalau yang Donghae tanyakan saja ia tidak tahu.
Suasana menjadi hening.
“Begini, aku tau kau pasti tidak mendengar pertanyaanku tadi. Jadi aku ulang ya. Aku cuma mau bertanya, apakah di antara sekian banyak undangan yang kau kirim, Gyuri termasuk salah satu penerimanya? Sejak perceraian kalian 6 bulan lalu, sudahkah kau menghubunginya? Bagaimana hubungan kalian sekarang?” tanya Donghae.
“Siapa sih yang ada di depanku sekarang? Coba mendekat ke sini! Biasanya seorang Lee Donghaae tidak pernah peduli pada hubunganku dengan Gyuri. Kenapa kau jadi peduli sekarang?”
“Tunggu sebentar, ponselku berbunyi, pasti dari Hyo. Tunggu sebentar ya. Sementara aku menelpon, cepatlah kau mandi!”
Donghae melangkah keluar dari kamar Hyukjae. Terlihat Donghae bersemangat bicara dengan orang yang ada di seberang. Donghae memang sangat bahagia begitu mengetahui kedua teman baiknya akan menikah. Donghae lah yang selama ini sibuk mengatur segala keperluan pernikahan Hyukjae dan Hyoyeon.
Hyukjae bangun dan masuk ke kamar mandi. “Sial, kenapa di hari ini aku malah memimpikannya. Bahkan ciuman pertamanya di pipiku bisa kurasakan sekarang,”. Hyukjae merasa bingung dengan apa yang dirasakannya sekarang. Ia sudah bertindak bodoh dengan meminta Hyoyeon menikahinya. Karena sejujurnya ia tidaklah mencintai Hyoyeon, ia takut kalau nanti ia hanya akan menyakiti perasaan sahabat terbaiknya tersebut.
Begitu Donghae mengakhiri pembicaraannya, Hyukjae telah selesai mandi dan sudah selesai mengenakan tuxedo yang dipesankan Donghae untuknya.
“Sudah siap?” tanya Donghae sambil menaruh kembali ponselnya di saku celana.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Hyukjae yang disambut anggukan semangat Donghae. Hyukjae memasukkan tangannya ke saku celana mencari-cari kotak kecil beludru berwarna biru yang berisi cincin perkawinannya.
“Tidak ada yang ketinggalan kan? Cincinnya sudah kau bawa?” tanya Donghae.
Lalu Hyukjae mengeluarkan kotak itu dan membuka untuk menunjukkan isinya pada Donghae. “Kau lihat sendiri kan? Tersimpan aman di saku celanaku.”
“Oke, kita berangkat sekarang!”
Tak lama kemudian, mereka sampai di gereja tempat upacara pernikahan akan diadakan. Donghae segera mengajak Hyukjae masuk ke ruang rias pengantin untuk menemui Hyoyeon.
“OMO, Eunhyuk-ah. Kau tampan sekali!” seru Hyoyeon begitu melihat Hyukjae memasuki ruangan.
Hyukjae hanya tersenyum tipis.
“Ehm, tuan Lee, ada seseorang yang ingin masuk menemui anda,” kata salah seorang perias Hyoyeon.
“Siapa?”
“Dokter Park.”
Hyukjae mengerutkan keningnya. “Mau apa orang itu ke sini? Memamerkan cincin pernikahannya dengan Gyuri?” pikir Hyukjae.
“Jangan biarkan dia masuk!” kata Hyoyeon tiba-tiba.
“Biarkan dia masuk!!” potong Hyukjae.
“Ya! Eunhyuk-ah! Kenapa kau membiarkan dia masuk, dia hanya akan…”
“Biar saja. Biarkan dia masuk. Kau diam saja di situ. Selesaikan riasanmu!!” pinta Hyukjae.
Melihat perubahan air muka Hyukjae, Hyoyeon terpaksa menurut dan melanjutkan riasannya.
“Annyeonghaseo, Tuan Lee yang terhormat. Aku harap kedatangan singkatku tidak akan menganggumu….” sapa Jungmin.
“Jangan banyak basa-basi kau! Cepat katakan saja maumu ke sini!! Aku muak melihat wajahmu!!”
“Muak melihatku? Harusnya akulah yang muak melihat wajah egois mu, Tuan Lee!!”
“YA! KAU JANGAN COBA MACAM-MACAM DENGANKU!! KAU PERUSAK HUBUNGAN ORANG!!” kata Hyukjae sambil mencengkram kerah kemeja Jungmin.
“Aku? Merusak hubungan orang? Hubungan siapa yang kau maksud?”
“Hubunganku dengan Gyuri tentu saja…”
“AH! Jadi itu yang dikatakan gadis bodoh itu padamu?”
“JANGAN PERNAH SEBUT GYURI GADIS BODOH!! DIMANA DIA SEKARANG? JANGAN BILANG KAU SUDAH MENCAMPAKKANNYA!!!”
“HEI, KAU BISA TENANG SEDIKIT TIDAK? AKU SUDAH LELAH MENDENGAR BENTAKANMU DARITADI!! KAU MEMBENCI KU? BOLEHKAH KUKATAKAN KALAU AKU AMAT SANGAT MEMBENCIMU, LEE HYUKJAE? APA YANG KAU LAKUKAN SEKARANG? MENIKAH DI SAAT MANTAN ISTRIMU, YANG KAU BILANG MASIH SANGAT MENCINTAINYA, SEDANG TERKAPAR DI RUMAH SAKIT BERJUANG MELAWAN MAUT?”
Cengkraman Hyukjae terlepas. “Apa kau bilang?” tanyanya. Ia tidak percaya dengan yang ia dengar tadi.
“Jangan hiraukan dia, Hyuk-ah. Dia mungkin hanyalah seorang dokter gila. Riasanku sudah selesai. Ayo kita mulai pernikahannya…” kata Hyoyeon sambil menarik tangan Hyukjae.
Hyukjae menghempaskan tangan Hyoyeon begitu saja. “Kumohon, katakan yang sebenarnya terjadi pada Gyuri sekarang!!”
Jungmin membelalakkan matanya. “Gyuri adalah salah satu pasienku di rumah sakit sekarang. Ia mengidap kanker otak. Ia sengaja menceraikanmu karena ia tidak ingin membebanimu dengan penyakitnya itu. Aku tidak tahu kalau ia memanfaatkanku sebagai alasan meminta cerai. Bukankah nona Kim sudah mengetahui hal ini? Saat Gyuri mengambil hasil tes nya, nona Kim sedang ada di sana dan aku melihat Gyuri menceritakan semuanya padanya.”
Hyukjae menatap Hyoyeon tajam.
“Hyuk-ah, dengarkan dulu. Aku tak bermaksud begitu. Aku cuma ingin bersamamu. Kau tahu aku sudah mencintaimu sejak dulu,” kata Hyoyeon dengan air mata yang mulai menggenangi matanya. “Kumohon, lanjutkan pernikahan kita…”
Hyukjae tidak menjawab. Ia langsung keluar membanting pintu dan mengambil kunci mobilnya.
“Ya! Eunhyuk-ah! Kau mau kemana? Bagaimana dengan pernikahannya?” tanya Donghae.
“Mian, Hae-ya. Tapi pernikahan ini aku batalkan…”
“HA? Kau bercanda kan? Tidak lucu tau!! Cepat kembali!!”
Hyukjae tidak menghiraukan teriakan Donghae. Ia masuk ke mobil dan mengarahkan mobilnya ke rumah sakit tempat Jungmin bekerja.

***********

Begitu sampai di depan rumah sakit tujuannya, Hyukjae segera berlari masuk dan mendatangi meja informasi.
“Park Gyuri…Dia…Dimana…Pasien yang bernama Park Gyuri…” kata Hyukjae sambil mengatur napasnya.
Suster yang sedang berjaga di situ terlihat kebingungan sebelum akhirnya mengerti maksud Hyukjae dan langsung mencari nama Park Gyuri di daftar nama pasien.
“Park Gyuri… kamar nomor….135″ kata suster tersebut.
Begitu mendengarnya Hyukjae segera mengarahkan langkahnya ke kamar yang disebut.
“Eh, tunggu tuan!!! Sekarang bukan jam besuk!!!” seru suster tadi mencoba menghentikan Hyukjae.
Hyukjae tidak menghiraukan seruan sang suster dan kembali mempercepat langkahnya. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah keadaan Goddess nya dan betapa bodohnya segala tindakan yang telah ia lakukan.
Begitu ia sampai di depan kamar yang bertuliskan nomor 135, tubuhnya membeku. Ia tidak sanggup melihat keadaan seseorang yang ada di balik pintu tersebut.
“Kau sudah sampai ternyata?”
Hyukjae membalikkan badannya dan menatap orang yang ada di hadapannya sekarang.
“Tega sekali kau meninggalkan perempuan itu di pernikahan kalian. Asal kau tahu, sahabatmu yang bernama Donghae itu menyalahkan aku habis-habisan. Lihat memar di mataku ini? Itu adalah hadiah sahabatmu itu untukku,”. Jungmin menghentikan kata-katanya sesaat. “Kau sudah melihatnya?”
Hyukjae menelan ludah dan menggeleng.
“Masuklah, mungkin ia sedang tidur sekarang. Ia sangat merindukanmu…” kata Jungmin sambil membukakan pintu kamar rawat Gyuri dan mempersilahkan Hyukjae masuk. “Aku ada di ruanganku. Di tangga seberang kamar ini, naiklah, lalu belok kanan. Kalau ada yang mau kau tanyakan, datang saja. Kebetulan aku sedang tidak sibuk sekarang. Aku tinggal dulu ya!”
Hyukjae menarik napas singkat dan memejamkan matanya sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke ruangan di mana Goddess nya sedang terbaring lemah.

**********

FLASHBACK

“Tenang Goddess, jangan kau hiraukan maniak yang terus menerormu itu!” kata Hyukjae santai mencoba menenangkan Gyuri yang sedang uring-uringan di sampingnya.
“Bagaimana aku bisa tenang!! Orang gila itu membuat ponselku terus berdering dari tadi pagi!! Aku sudah bilang padanya kalau aku tidak suka padanya, tapi ia terus ngotot memintaku jadi pacarnya! Dasar maniak gila!!”. Gyuri mencabut baterai ponselnya dan melemparkan kedua barang itu ke jok belakang mobil Hyukjae.
Suasana di mobil Hyukjae yang tadinya ribut karena nada dering ponsel Gyuri akhirnya menjadi hening. Gyuri memejamkan matanya menikmati keheningan yang hampir seharian ini belum ia rasakan.
“Kau menyukai mobil baruku, Goddess?” bisik Hyukjae hati-hati.
“Setidaknya benda ini lebih baik daripada sepeda yang selalu kau gunakan dulu,” jawab Gyuri sambil tersenyum kecil.
“Baguslah, artinya kerja kerasku selama ini tidak sia-sia,” kata Hyukjae puas.
“Beberapa tahun tidak bertemu denganmu aku tidak menyangka kau bisa menjadi seorang pekerja keras, Monkey. Kau tabung seluruh gaji mu ya? Melakukan pengiritan total, huh?”
Begitu lampu merah menyala, Hyukjae mengerem mobilnya dan mengambil baterai sekaligus ponsel Gyuri yang ada di jok belakang. Ia memasukkan kembali baterai itu ke tempatnya. Tak lama, ponsel itu kembali berdering. Ia menekan tombol reject dan menekan-nekan tombol ponsel Gyuri sambil mengambil ponselnya yang bergetar di saku celana dan menekan-nekan tombol ponsel tersebut lalu menempelkannya ke telinga. Begitu lampu hijau menyala, Hyukjae kembali menggas mobilnya, ponsel Gyuri yang ada di genggaman kembali dimatikan dan dicabut baterainya.
Detik-detik menunggu hubungan tersambung terasa cukup lama bagi Gyuri yang sedari tadi memperhatikan dengan seksama apa yang sedang dilakukan Hyukjae. Gyuri menatap ponsel Hyukjae dengan penasaran.
Tiba-tiba terdengar suara jawaban samar-samar.
“YA!”
Gyuri terlonjak kaget ketika tiba-tiba Hyukjae berteriak dengan penuh emosi kepada lawan bicaranya.
“AKU HANYA MAU MEMPERINGATKANMU SEKALI INI SAJA! JADI DENGARKAN BAIK-BAIK! WANITA YANG TERUS KAU TEROR DNGAN TELPON MEMAKSANYA MENERIMA CINTAMU ITU ADALAH CALON ISTRI KU!KUHARAP KAU JANGAN PERNAH MENGGANGGUNYA LAGI ATAU KAU AKAN MENYESAL!!” seru Hyukjae. Begitu sambungan telpon dimatikan, ia tertawa geli. “Hahahahaha, dasar pengecut! Baru digertak begitu saja sudah ketakutan setengah mati!! Mana bisa pria seperti itu bersanding dengan Goddess sepertimu!!”
Gyuri yang tadi terkaget-kaget setengah mati menggumamkan sesuatu yang tak bisa ditangkap pendengaran Hyukjae dan memasang kembali baterai ponselnya.
“Bagaimana Goddess? Maniak itu sudah berhenti menghubungi mu kan? Coba diamkan ponselmu itu beberapa saat, dijamin tidak akan ada panggilan dari maniak gila itu lagi. Siapa dulu yang mengatasinya, Lee Hyukjae…”
Gyuri merasa tidak perlu menjawabnya karena hal itu bisa dibuktikan dengan membiarkan ponselnya menyala dan menunggu apakah ada panggilan dari maniak yang sudah mengganggunya seharian. Setelah beberapa saat menunggu, ponselnya tidak juga berdering.
Senyum Hyukjae mengembang. Ia berhasil menghentikan maniak yang telah mengganggu kedamaian Goddess nya.
Gyuri melihat ponselnya mencoba memastikan kalau ia memang sudah terbebas dari gangguan maniak gila itu.
“Mana ucapan terima kasihmu, Goddess?” tanya Hyukjae sambil menghentikan mobilnya di depan salah satu klub malam yang paling terkenal di Seoul.
Suasana riuh menyambut Gyuri begitu Hyukjae membukakan pintu mobil untuknya. Ia bisa mendengar suara musik yang begitu keras dan suara orang-orang bersorak dan bertepuk tangan. Ia tidak habis pikir bagaimana keadaan di dalam sana. Di luar saja ia merasa seakan telinganya bisa meledak karena begitu ributnya suara. Hyukjae mengambil ponselnya yang bergetar dan menempelkannya ke telinga.
“Aku sudah sampai dan akan segera masuk, kau dimana?”
Samar-samar Gyuri bisa mendengar suara Hyukjae. Ia mencengkram lengan Hyukjae dan mengguncang-guncang keras tubuhnya. “Kenapa kau membawa ku ke sini? Kau tahu kan, kalau aku benci klub malam atau tempat ricuh seperti ini.”
“Ada yang harus kutemui sebentar. Ikutlah denganku. Aku janji tidak akan lebih dari 5 menit,” kata Hyukjae dan menarik tangan Gyuri untuk mengikutinya masuk. “Duduk di sini dulu. Aku harus mencari seseorang.”
Gyuri segera duduk di tempat yang ditunjuk Hyukjae dan menutup kupingnya. “Berisik sekali. Bau alkohol sama rokok dimana-mana. Ya ampun. Tempat macam apa ini?”
Tak lama kemudian, Hyukjae datang dan duduk di samping Gyuri.
“Urusan mu sudah selesai?” tanya Gyuri.
“Belum sepenuhnya selesai….” jawab Hyukjae ragu.
“Cepat selesaikan! Aku tidak tahan lama-lama di tempat ini!!”
Tiba-tiba lagu yang tadinya menghentak-hentak dan menurut Gyuri tidak jelas, yang ia tangkap hanya suaranya yang menggelegar digantikan oleh lagu yang ia kenal berjudul Marry U. Lagu yang entah sudah berapa lama selalu Hyukjae putar di mobilnya.
Hyukjae berdiri dan mengambil tempat di samping DJ bertubuh tambun dan mulai menyanyikan lagu tersebut.
Suara Hyukjae yang pas-pas an tertutupi oleh ekspresi seriusnya yang membuat dada Gyuri secara mendadak sesak.
Begitu lagu selesai, Hyukjae kembali ke depan Gyuri dan berlutut. “Would you marry me, Goddess?” katanya sambil mengeluarkan kotak kecil yang terbungkus kain beludru berwarna biru yang berisi cincin.”Sebenarnya aku sudah sering memberi clue kalau aku akan segera melamarmu, Goddess. Masa’ kau masih kaget sih?” tanya Hyukjae.
Gyuri menelan ludah. Ia sama sekali tidak menyadari clue yang diberikan Hyukjae selama ini.
“Aku mati-matian menabung selama ini agar aku bisa membeli mobil, untuk mebuatmu nyaman bila berjalan denganku, sebuah apartemen kecil, tempat kita tinggal bersama nanti, dan cincin ini, untuk mengikatmu agar menjadi milikku selamanya. Aku selama ini selalu berusaha agar bisa menjadi pria yang pantas untukmu, Goddess,” kata Hyukjae pelan.
“Tapi…tapi…Jungmin Oppa…”. Entah kenapa tiba-tiba mulut Gyuri melontarkan pertanyaan tersebut.
“Aku janji aku akan membuatmu melupakannya dan mencintaiku, Goddess. Kumohon…” kata Hyukjae sambil menggenggam tangan Gyuri. “Would you marry me?”
“Ehm… yes, I do, my Monkey…”

**********

Masih jelas diingatannya tentang hari itu. Hari dimana Goddess nya akhirnya menjawab pertanyaan itu dengan senyum dan pipi memerah. Tapi yang bisa ia lihat sekarang hanyalah seorang wanita dengan tubuh yang amat kurus, bahkan bisa dibilang hanya tulang yang terbungkus kulit dan kepala yang sudah habis tak ditumbuhi rambut satu helai pun, wajah yang amat sangat pucat, walau semua itu tetap tak bisa menyembunyikan kecantikannya, sedang tergeletak tak berdaya.
Tiba-tiba mata wanita itu terbuka. “Monkey? Apa yang kau lakukan di sini?Bukankah harusnya kau…”
Hyukjae memeluk Gyuri dan membuat Gyuri kehilangan kata-katanya. “Mianhae, mianhae, mianhae….”

**********

“Kalau ada orang bertanya, apakah momen terindah dalam hidupku, aku pasti akan menjawab saat aku melihat seorang Goddess masuk ke altar berbalut gaun putih dengan wajah yang cantik luar biasa dan mengatakan kalau ia bersedia menjadi pendamping hidupku selamanya,” kata Hyukjae sambil melepaskan jaketnya dan duduk di samping ranjang tempat Gyuri terbaring lemah. Menjenguk Gyuri di rumah sakit sudah menjadi kegiatan tetapnya sepulang kerja sekarang.
Jantung Gyuri berdebar keras mendengarnya. Bila ia ditanyakan hal yang sama, ia yakin akan menjawab saat ia melihat Hyukjae yang sangat tampan dengan tuxedo menunggunya di depan pendeta. Momen itu adalah momen yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Ia bahkan sempat ingin bersorak dan menjerit di depan para undangan dan meneriakkan betapa ia sangat mencintai Lee Hyukjae. Pria yang membuatnya melupakan Park Jungmin, hal yang kedengarannya sangat mustahil sebelum ia mengenal Hyukjae lebih dekat dan tanpa sadar jatuh cinta padanya.
Hyukjae bolak-balik menyuapkan Gyuri obat yang sudah disiapkan suster jaga di meja. Ia memang bersikeras meminta menyuapkan Gyuri obat malam kepada suster yang bertugas menjaga Gyuri. Suster yang tadinya terus menolak akhirnya luluh dan membolehkan Hyukjae yang menyuapkan Gyuri obat dengan syarat ia tidak boleh telat datang dari jadwal minum obat Gyuri.
Ketika Gyuri mencoba berdiri, secara tak sengaja ia terpeleset di depan Hyukjae. Detik itu juga ia menyadari kalau keadaan Hyukjae tidak lebih baik darinya. Kantung mata tercetak jelas di sekeliling matanya, wajah pucat, rambut yang tertata asal-asalan, pakaiannya juga begitu berantakan.
Hyukjae yang melihat Gyuri terpeleset segera bangun dan membantunya bangun. Ia menatap Gyuri memberi isyarat apakah Gyuri membutuhkan bantuannya.
Gyuri menggeleng. “Tidak usah, Monkey. Aku bisa ke toilet sendiri. Kau tenang saja,”. “Ada apa ini? Kenapa dia bisa seperti itu? Apa karena aku? Kalau benar begitu, artinya keputusanku meminta cerai kemarin tidak sepenuhnya salah. Aku tidak bisa membayangkan keadaannya kalau kami masih bersama sekarang,” pikir Gyuri.
“Tidak butuh bantuanku? Huh, sekarang kau tidak butuh bantuanku, Goddess? Tolong jangan pernah katakan itu, aku tidak bisa membayangkan kalau hal itu terjadi. Aku tidak bisa berada di dekatmu lagi kalau kau tidak butuh bantuanku, Goddess, dan itu akan menyiksaku,” kata Hyukjae dalam hati.
Begitu keluar dari kamar mandi Gyuri kembali berbaring di ranjangnya. Saat Hyukjae mengalihkan pandangan ia segera memeriksa bawah bantal meyakinkan dirinya kalau barang itu masih tersimpan aman. Barang yang menurutnya amat penting sekarang.
Hyukjae melirik melihat Gyuri yang sepertinya sedang mencari-cari sesuatu di bawah bantalnya. Ia ingat kalau Gyuri memang pernah melarangnya menyentuh ranjangnya karena ia menyembunyikan sesuatu di situ.
“Jangan mengintip, Monkey. Sabar lah sebentar lagi. Aku janji akan segera memberikannya padamu kalau waktunya sudah datang,”
Hyukjae terlihat bingung namun mencoba tenang. “Siapa yang mengintip, Goddess? Aku daritadi hanya melihat pintu itu.”
Gyuri tiba-tiba berkata,”Wah, sepertinya nyawa ku yang ke delapan baru saja melayang. Kau bisa berhitung kan, Monkey? Habis angka delapan adalah angka sembilan. Itu artinya aku hanya mempunyai nyawa ke sembilan. Hanya sisa satu. Mungkin, aku akan segera pergi dalam waktu dekat.”
“Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau pergi dalam waktu dekat ini, Goddess.”
“Bagaimana lagi? Kenyataannya memang begitu. Kau janji kau akan baik-baik saja kalau aku tinggal kan?”
Hyukjae terdiam dan Gyuri memandangnya dengan mata yang disipitkan. Ia menunggu Hyukjae menjawab pertanyaannya. Kini Gyuri melebarkan matanya dan menatap Hyukjae dalam-dalam.
“Jangan main-main, Goddess. Pertanyaanmu tadi sama sekali tidak lucu. Ah iya, aku punya permainan…”
“Aku mau kau jawab itu sekarang!” kata Gyuri memotong kalimat Hyukjae.
Hyukjae berdiri dengan gugup di bawah sinar lampu yang menerangi kamar rawat Gyuri. Ia sebenarnya ingin menjawab kalau ia sama sekali belum siap kalau Goddess nya harus segera meninggalkannya. Tapi ia tahu kalau bukan jawaban itulah yang Gyuri harapkan.
Gyuri kembali berkata,”Kumohon, Monkey. Jawab itu sekarang. Aku butuh jawaban itu sekarang.” Gyuri berharap kalau Hyukjae akan memberikan jawaban yang mungkin bisa membuatnya sedikit tenang.
“Aku akan membantumu mencari nyawa ke delapanmu. Aku yakin ia belum jauh. Setelah menemukannya aku akan mengembalikannya padamu sehingga nyawamu bertambah dan kau bisa ada di sini lebih lama.”
“Kau pikir kau bisa menemukannya semudah itu? Kau pikir nyawa bisa dicari? Kau pikir bisa semudah itu membuatku tetap hidup?”
Hyukjae merasa seperti orang tolol, hanya berdiri diam dan tak mampu menjawab apa-apa. “Aku keluar dulu,” kata Hyukjae pada akhirnya.
“Ah, Hyukjae-ya. Untung akhirnya aku menemukanmu. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu!!” seru Jungmin begitu melihat Hyukjae keluar dari kamar rawat Gyuri.
“Jungmin Hyung? Ada apa?” tanya Hyukjae pelan.
“Lebih baik kita bicara di ruanganku. Ikuti aku!”
Hyukjae mengangguk pasrah dan berjalan mengikuti Jungmin ke ruangannya.
Begitu sampai di ruangannya, Jungmin mempersilahkan Hyukjae duduk di depannya. Ia menghela napas panjang. “Begini, sebenarnya…”. Kata-kata Jungmin terhenti.
Hyukjae menegakkan kepalanya dan menajamkan pendengarannya. Ia yakin kalau sesuatu yang akan disampaikan Jungmin bukanlah berita bagus.
Jungmin kembali menghela napas panjang. “Kanker Gyuri sudah menyebar dan semakin mengganas. Obat yang selama ini kuberikan untuknya tak mempan lagi untuk mengatasi kanker tersebut. Disamping itu, kalau aku menambah dosis, aku takut tubuh Gyuri tidak akan kuat menerimanya dan malah akan memberikan dampak yang jauh lebih buruk.”
“Jadi…”
“Singkatnya, waktu Gyuri bersama kita sudah tidak lama lagi…”

**********

“Cepat bersiap-siap, Goddess. Aku tidak akan menunggu lama. Jungmin Hyung juga sudah menunggu kita di depan,” kata Hyukjae sambil duduk di tempat ia biasa duduk atau yang sering Gyuri sebut dengan ‘singgasana raja kera’.
Gyuri membalikkan tubuhnya begitu mendengar suara Hyukjae. “Kita mau pergi kemana? Ah, aku lupa. Aku kan tidak diperbolehkan keluar dari rumah sakit ini.”
“Kenapa tidak?” tanya Hyukjae sambil tersenyum. “Kau takut Jungmin Hyung melarangmu? Tidak mungkin. Dia saja sudah menunggu kita di luar.”
“Kau bohong!! Tidak mungkin!! Jungmin Oppa adalah satu-satunya orang di rumah sakit ini yang selalu melarangku keluar!!”.
“Kau tidak dengar perkataanku tadi ya?”. Hyukjae lalu mengeluarkan sehelai pakaian dari dalam tasnya dan meletakkan benda itu di samping Gyuri.
Gyuri berteriak kesenangan. Ia tidak menyangka Jungmin akan membolehkannya jalan-jalan keluar, terlebih setelah keadaannya makin memburuk akhir-akhir ini. Ia lalu memandang sebuah gaun putih yang tergeletak di sampingnya kini. Gaun favorit yang dengan bodohnya ia lupakan saat mengepak barang sampai tertinggal di apartemen Hyukjae. Ia menyentuh gaun itu dan mendongak menatap Hyukjae yang sedang tersenyum.
“Aku sengaja membawakan gaun itu. Kau terlihat sangat cantik setiap kali memakainya, Goddess.”
“Dasar monyet gombal!!” seru Gyuri sambil tertawa. Hal yang entah sejak kapan belum pernah ia lakukan. Dan sekarang ia baru menyadari ia merindukan tawanya sendiri.
Tawa di wajah Gyuri membuat Hyukjae ikut tertawa. Ia merindukan tawa khas Goddess nya yang dulu selalu ia dengar tiap hari. Tawa yang baru kembali setelah beberapa lama menghilang.

**********

“Wah…Indah sekali!! Gomawo sudah membawaku ke sini, Oppa!! Kau ingat tidak? Waktu kita masih kecil, kita sering ke bukit ini untuk melihat matahari terbit. Ingat tidak, Oppa?”
Jungmin menjawabnya dengan anggukan dan sebuah senyuman.
“Kau dulu sering ke sini, Goddess? Aku juga sering ke sini untuk melihat matahari terbit dulu. Kok aku tidak pernah melihatmu ya?” tanya Hyukjae sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Jelas saja kau tidak pernah melihatmu. Melihat matahari terbitnya saja jangan-jangan dengan mata yang masih setengah terbuka. Aku yakin kau datang ke sini dengan hidung ingusan dan mulut yang masih dipenuhi air liur,” ejek Gyuri.
“Aduh…Aduh…Jantung hatiku ini memang sangat mengenalku ya. Aku terharu mendengarnya, Goddess.”
“Kalau aku jadi kau, bukannya terharu aku malah akan mengubur diriku hidup-hidup saking malunya,” kata Gyuri sambil mengedarkan pandangan menikmati pemandangan indah yang ada di sekelilingnya.
Gyuri dan Hyukjae duduk di belakang sedangkan Jungmin bertugas menyetir di depan. Mereka sedang dalam perjalanan ke sebuah bukit yang dulu sering mereka datangi untuk melihat matahari terbit. Sekarang mereka berencana pergi ke sisi lain bukit itu dan melihat matahari terbenam.
“Ya mau bagaimana lagi. Aku memang terharu. Bukan salahku kan kalau terharu saat mengetahui kalau kau memang benar-benar mengenalku,” kata Hyukjae memberikan perlawanan. Sembari memancing emosi Gyuri, Hyukjae terus menatap Goddess yang sedang duduk anggun di sampingnya. Ia ingin terus memandangi kecantikan Goddess nya sebelum hal yang paling ia takutkan terjadi. Tadi ia sempat mengira kalau Goddess nya mungkin terlalu lemah untuk berdebat dengannya. Namun ternyata selemah apapun keadaannya, Goddess nya memang pantang mengalah.
“Aku harap aku cukup kuat untuk meninjumu, Monkey,” desah Gyuri yang sudah malas menanggapi Hyukjae.
Tiba-tiba Jungmin menghentikan mobil dan menegakkan punggungnya. “Kita sudah sampai. Ayo cepat turun. Matahari akan terbenam sebentar lagi!!”
Hyukjae segera turun dan menggendong Gyuri yang keadaannya sudah sangat lemah ke tempat Jungmin sudah menggelar tikar. Ia mendudukkan Gyuri dengan sangat hati-hati dan segera mengambil posisi di sampingnya.
Tak lama kemudian, matahari perlahan bergerak turun ke peraduannya menimbulkan semburat jingga yang sangat indah di langit.
Tangan Gyuri bergeser pelan sebelum akhirnya meraih jari-jari Jungmin dan menggenggamnya, kepalanya ia sandarkan di bahu Hyukjae. “Indah sekali. Luar biasa rasanya menghabiskan sisa hidupku dengan melihat pemandangan ini ditemani dua laki-laki yang paling kusayang di dunia ini. Setelah Appa tentu saja.”
“Aku janji akan selalu membawamu ke sini untuk melihat matahari terbenam, Goddess,” bisik Hyukjae.
“Aku harap aku bisa datang ke sini lagi…”
“Kau pasti bisa, Saeng. Aku dan Hyukjae yang akan selalu menemanimu ke sini. Kami janji,” kata Jungmin sambil mengelus kembut kepala Gyuri.
“Ah iya, hampir saja aku lupa. Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberikannya padamu, Monkey. Ambillah!” kata Gyuri dan mengeluarkan sepucuk surat dari saku gaunnya.
Hyukjae mengambil surat itu dan mulai membacanya.

To : My Lovely Monkey

Since the day I met you, there was one thing that I couldn’t tell you. It was not a simple reason that I was shy. Though imagination and reality are not always the same, but in your future will you still have me by your side? Time was flowing and I hope today I still turn the page carefully. But just seeing your smile, I can believe in our future. From my heart, right now, I want to say “Thank You”. Do you hear me? And the day when I could wear that silver dress, darling, I just want to tell you how much I love you. Promise me, even 100 years have passed, we will always walk together.

Hyukjae menghentikan bacaannya. Ia mengepalkan tangannya erat-erat mencoba membangun pertahanan agar air matanya tidak keluar.
“Kenapa kau berhenti, Monkey? Kau tidak suka suratku?” tanya Gyuri sambil mendongak menatap Hyukjae.
“Ani, aku suka suratmu. Aku hanya butuh waktu untuk istirahat sebentar,”. Hyukjae mengulaskan sebuah senyuman di wajahnya.
“Aku tidak pernah menyangka aku melihatmu pertama kali di sini saat matahari terbit, dan mungkin aku akan melihatmu terakhir kali di sini, saat matahari terbenam. Ending cerita kita bagus sekali ya?”
Jungmin membuang mukanya. “Jangan mengatakan hal seperti itu, Gyuri-ya!!”
“Wae? Mungkin saja kan hal itu terjadi,” kata Gyuri sambil melirik Jungmin.
“Kau pertama kali melihatku di sini saat matahari terbenam? Kapan?”. Hyukjae membelalakkan matanya dan memandang Gyuri.
“Baboya!! Bisa-bisanya kau tidak sadar. Yang jelas aku pertama kali melihatmu di sini! Bukan sepertimu yang menganggap pertemuan pertama kita di saat upacara penerimaan siswa baru di SMA. Sudah cepat lanjutkan bacanya!!” pinta Gyuri.
Hyukjae mengangguk dan menarik napas panjang sebelum melanjutkan membaca.

Before we were born, we had already been destiny for each other. And if I were born once again, I would still want to meet you, still want to be a Goddess for my Monkey. Despite the painful and sad tears are dropping, but when I see your sweet and bright smile, just look at that sincere expression, I feel like everything has become eternal. From my heart, right now, I just wan to say “Thank You”. Do you hear me? My heart always turns toward you without words. Darling, I just want you to know my only true love is you. I love you. Even 100 years have passed, I’ll still be by your side.

From : Your Goddess.

Pertahanan Hyukjae runtuh. Air matanya merembes turun. Tubuhnya mulai bergetar menahan isak tangis yang makin lama makin besar. Ia menatap langit yang kini sudah gelap. Matahari sudah hilang sepenuhnya. “Goddess…Godess…Ireona…Kita harus pulang,”. Hyukjae mengguncang tubuh Gyuri pelan.
Tiba-tiba tangan Jungmin menahannya. “Ia sudah pergi…” kata Jungmin dengan wajah yang memerah.
Hyukjae tahu Jungmin juga merasajan emosi yang sama dengannya karena Jungmin sudah menganggap Gyuri sebagai adiknya sendiri. “Kau bohong!!”. Hyukjae kembali mengguncang tubuh Gyuri. “Goddess, bangunlah…”. Air matanya turun semakin deras. Ia akhirnya menyerah dan memeluk Goddess nya erat-erat. “Kau curang!! Kau pergi duluan!! Ending ceritamu berakhir dengan bahagia!! Kenapa kau tidak memikirkanku? Ending ceritaku belum tentu berakhir bahagia!! Berjanjilah padaku Goddess, suatu saat nanti kau akan menjemputku di sini, saat matahari terbit. Aku ingin ending ceritaku berakhir bahagia sepertimu…”. Hyukjae menghembuskan napas panjang dan menyeka air matanya. “Aku akan selalu menunggumu, Goddess. Saranghae yeongwonhi…”.

**********

EPILOG

“Tunggu dulu, Oppa!!”
“Kau merengek terus daritadi, Gyuri-ya! Kau ingat tidak kemarin kau yang minta agar aku ajak ke sini melihat matahari terbit?”
Ini adalah kali pertama Jungmin membentaknya. Gyuri mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. Separah itukah rengekannya?
Jungmin menepuk lengan Gyuri dan berseru, “Tadi juga kau masih semangat mengajakku ke sini! Kenapa tiba-tiba kau menyerah? Aku tidak suka anak berumur 5 tahun yang cengeng sepertimu! Kau harus semangat!! Sebentar lagi kita sampai!! Ayo jalan lagi!! Begitu kau melihatnya nanti semua capekmu akan hilang. Aku jamin itu!!”
“Shireo!!” bantah Gyuri cepat-cepat.
“Mwo? Apa yang kau katakan?”
“Tadi aku begitu semangat karena aku tidak menyangka jalan nya akan sejauh ini. Tadi juga aku tidak menyangka kalau kita harus mendaki bukit. Aku sudah capek, Oppa!! Lain kali saja kita lihat ya, kumohon, jebal…”
“Kau ini! Coba pikir, kalau kita pulang sekarang, Eomma mu pasti akan marah karena kau pergi dari rumah tanpa izin. Lebih baik kita lihat matahari terbit dulu. Setidaknya kau mendapat sedikit keuntungan daripada hanya dapat capeknya saja.”
Gyuri mengangguk-angguk.
“Benar kan?”
Gyuri menghembuskan napas panjang dan menggerutu dalam hati sebelum kembali mengikuti langkah Jungmin.
Sepanjang sisa perjalanan, Jungmin terus berbicara menyemangati Gyuri, tapi Gyuri hanya mengabaikannya karena ia sudah cukup capek mendaki bukit yang entah dimana ujungnya. Ia tidak butuh mendengar ocehan-ocehan seperti yang Jungmin lontarkan. “Mungkin Jungmin Oppa perlu kutinju untuk menghentikan ocehannya,” pikir Gyuri.
“Ya!! Coba ke sini!! Palli!! Lihat ini!!” pinta Jungmin sambil mengulurkan tangannya agar Gyuri dapat meraihnya dan ia bisa membantu Gyuri memanjat ke tempatnya berdiri sekarang. Matahari sudah mulai menampakkan dirinya.
Gyuri mengulurkan lengannya dan menggapai lengan Jungmin. Dalam satu tarikan kuat, ia sudah ada di samping Jungmin sekarang.
“Lihat!! Matahari mulai naik!! Indah bukan? Kau pasti tidak menyesal melihatnya!! Gyuri? Kau lihat tidak?” tanya Jungmin sambil menunjuk ke arah matahari terbit dan menoleh ke arah Gyuri yang masih menggerutu.
Gyuri mengangkat kepalanya dan menyaksikan kejadian alam yang baru pertama kali dilihatnya. Tak lama, ia memekik senang dan mengelus-elus lengan Jungmin yang masih menggandengnya.
Jungmin hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan Gyuri yang berubah 180 derajat. Ia tidak menyangka reaksi Gyuri bisa seperti ini.
Kemudian Gyuri kembali menekuk mukanya. “Nah, aku sudah melihatnya. Ternyata biasa-biasa saja. Ayo kita pulang, Oppa!!”
Jungmin menundukkan kepala. Ternyata perkiraannya salah. Gyuri hanya berpura-pura kesenangan, sekarang ia sudah melipat wajahnya lagi.
“Kau duduk saja dulu di batu itu. Aku masih mau di sini sebentar…” kata Jungmin sambil menyuruh Gyuri duduk di sebuah batu besar yang tidak jjauh dari tempatnya berdiri.
Gyuri terpaksa menurut dan duduk di batu itu. Ia lalu melirik ke sekitar dengan pandangan bosan. “Tidak ada yang menarik,” gumamnya.
Tiba-tiba pandangannya terpaku pada sesosok anak lelaki yang kira-kira seumurannya. Anak itu sedang menyaksikan matahari terbit, seperti Jungmin, dari atas sebuah dahan pohon besar di belakang batu tempat Gyuri duduk. “Dasar anak monyet! Melihat matahari terbit saja harus dari atas pohon, ckckckck…”. Gyuri lalu membetulkan posisi duduknya hingga ia bisa melihat anak itu dengan lebih jelas.
Tanpa aba-aba, pipinya memanas ketika ia melihat anak itu tersenyum. Senyum yang manis, cerah, dan polos. Gyuri segera membuang muka. Ia tidak tahu kenapa pipinya memerah begitu ia melihat senyum anak itu. Capeknya pun hilang seketika.
“Gyuri-ya! Ayo pulang!! Aku janji tidak akan mengajakmu ke sini lagi!!” seru Jungmin sambil menggandeng tangan Gyuri dan berjalan pulang.
“Ehm… Oppa… Aku tarik kata-kataku tadi. Lain kali, ajaklah aku ke sini lagi!!” pinta Gyuri sambil menundukkan wajahnya.
Jungmin ternganga. Gadis yang berumur satu tahun di bawahnya ini biasanya pantang menarik kembali kata-kata yang sudah ia ucapkan. “Wae? Kau akhirnya suka melihat matahari terbit?” tanya Jungmin penasaran.
“Ani, aku ingin melihat senyum Monkey lagi…” kata Gyuri malu-malu.
“Monkey? Siapa itu?”
“Aku akan mengenalkannya pada Oppa. Aku janji, tapi nanti ya…”

Forgotten Love

“HaHee, tunggu!!!”
Kubalikkan tubuhku dan mendapati Soohwa onnie sedang berlari mengejarku.
“Kau sudah keluar dari rumah sakit ternyata, kenapa gak bilang-bilang?” tanya Soohwa onnie sambil mengatur napas nya.
“Onnie sudah kangen banget sama aku ya?”
Soohwa onnie membulatkan matanya menatapku. “Kangen sama kamu? Jelas gak! Onnie malah senang gak ada yang ganggu onnie selama kamu masuk rumah sakit kemarin….”
Aku menggembungkan pipiku. “Oh, gitu ya, kalo gitu aku balik ke rumah sakit aja sekarang…” sungutku.
“Dibecandain gitu aja ngambek, payah ah…” kata Soohwa onnie sambil menarik tanganku. “Ngomong-ngomong kamu beneran kecelakaan gak sih? Kok rasanya luka yang ada ditubuhmu cuma satu itu aja sich?”. Soohwa onnie menunjuk luka yang ada di kepalaku.
“Apa sih mau onnie? Aku lumpuh, hilang ingatan, tanganku patah, begitu? Sudah bagus cuma kepalaku saja yang luka….”. Lagi-lagi kugembungkan pipiku. Aku tak menyangka Soohwa onnie bisa kejam begitu.
“Aniyo, bukan begitu maksudku. Hanya saja, kau tahu. Biasanya kalau orang baru tertabrak mobil dia akan….”
“Yah, aku tahu onnie. Menurut saksi mata yang ada di sekitarku waktu itu ada seseorang yang mendorongku ke tepi jalan, dan dialah yanng akhirnya tertabrak mobil…” jelasku.
“Bagaimana keadaan orang itu sekarang?”
“Molla, selama di rumah sakit aku tidak diperbolehkan keluar dan mencari tahu tentang pahlawanku itu. Onnie tau sendiri kalau Eomma dan Appaku overprotektif terhadapku.”
Soohwa onnie mengangguk-anggukan kepalanya. “Bagaimana bisa kau hampir tertabrak?” tanyanya lagi.
“Well, waktu itu aku sedang terburu-buru. Aku hampir terlambat ke tempat les…” kataku sambil nyengir kuda.
Soohwa onnie menjitak kepalaku. “Dasar ceroboh!!! Btw, onn masuk ke kelas dulu ya, takut telat…”
“Ne…”
“Kamu sendiri gak masuk kelas?”
“Ntar aja dech…”
“Emang guru yang ngajar di pelajaran pertama siapa?”
“Heechul songsaeknim, santai aja…”
“Mending kamu sekarang buru-buru ke kelas dech. Biar keliatan santai begitu, Heechul songsaeknim sangat mengerikan kalau marah…” kata Soohwa onnie sebelum berlari ke kelasnya.
Ngomong-ngomong kenalkan, namaku Han HaHee. Yang tadi itu adalah Soohwa onnie, sunbae yang kebetulan tetangga dan sahabatku dari kecil. Aku sudah menganggapnya sebagai onnieku sendiri, begitu juga sebaliknya. Sudah dulu ya, aku harus masuk kelas, kalian dengar kan, apa yang Soohwa onnie bilang tadi? Aku tidak mau dimarahi Heechul songsaeknim. Annyeong!!!

**********

“Bagaimana? Kau telat tadi?”
Aku menggelengkan kepalaku. “Dia tu yang telat. Sampe nangis lagi pas dimarahin Heechul songsaeknim…” kataku sambil menyikut Donghae yang sedari tadi asyik bercanda dengan Eunhyuk.
“Eh, apa? Aku nangis? Jangan salahin aku donk. Heechul songsaeknim memang mengerikan pas bentak-bentak aku tadi…” kata Donghae, sekarang ia sedang joget-joget aneh bedua Eunhyuk. Pasangan aneh. Heran cewek-cewek di sekolah ini bisa bilang dia cowok paling ganteng di sekolah. Memang kuakui, Donghae mempunyai wajah tampan dan senyum yang menurutku seperti senyum anak kecil, menggemaskan. Dia juga tau bagaimana cara memperlakukan cewek dengan manis, akibatnya banyak cewek yang kegeeran. Suaranya juga bagus, jago dance, dan satu lagi, dia anak konglomerat. Sayang aja dia cengeng, walaupun banyak cewek yang membela dia dan bilang kalau dia itu ‘sensitif’ bukan cengeng. Aneh, kalo cengeng ya cengeng aja kale.
“Noona, HaHee, duluan ya. Aku sama Eunhyuk mau latihan dance dulu. Annyeong!!!” seru Donghae. Dia dan Eunhyuk langsung berlari sambil terus bercanda.
“Donghae kan ganteng, banyak cewek yang suka sama dia. Tapi kenapa semuanya dia tolak ya onn? Jangan-jangan dia gay lagi. Coba liat tu, akrab banget sama Eunhyuk, sampe kayak orang pacaran aja…” kataku ke Soohwa onnie.
Soohwa onnie terkikik mendengarnya. “Ngawur aja. Kita kan udah temenan sama mereka sejak kecil, emang mereka berdua udah kayak gitu dari dulu kali….”
“Tapi kan mereka sudah SMA sekarang onn, masa’ belum berubah juga. Bayangin aja, udah kelas satu SMA tapi belom pernah pacaran. Malah akrab banget sama sesama jenis. Apa gak mencurigakan tu?” sanggahku.
Soohwa onnie terdiam sebentar dan menatapku. “Kalau begitu kau juga patut dicurigai donk. Kamu juga belom pernah pacaran kan?”
Yap, aku kalah. Aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Segera saja kupercepat langkahku dan meninggalkan Soohwa onnie sendirian.
“Ya! HaHee! Tunggu!! Masa’ gitu aja ngambek sich?” panggil Soohwa onnie sambil berusaha mengejarku.
“Udah ah, pulang yuk, onn. Jangan bikin aku tambah bete lagi dech…” kataku kesal.
“Eh? Pulang? Kau bisa pulang sendiri kan? Aku ada rapat OSIS bentar. Anyyeong….” kata Soohwa onnie dan berjalan meninggalkanku ke ruang OSIS.
Tinggalah aku sendirian di sini. Huh, menyebalkan. Kubalikkan tubuhku dan berjalan pulang.
“HeeChan!!! Bogoshippoyo!!!” panggil seseorang, dan sedetik kemudian kurasakan seseorang memelukku dari belakang.
“KYA!!!” teriakku sambil berusaha melepaskan pelukannya. “Siapa kau?” bentakku.
“Masa’ kau lupa denganku, Hee Chan?” tanya cowok itu heran.
“Hee Chan?”
Dia hanya mengangguk.
“Kenapa kau memanggilku begitu?”
Cowok itu terdiam dan menatapku. “Kau benar-benar lupa padaku ya?”
“Memangnya siapa namamu?” tanyaku sambil berkacak pinggang.
Dia melipat tangannya di depan dada. “Coba ingat-ingat sendiri…”
“Males ah…” balasku dan langsung melenggang pergi meninggalkannya.
“Ya! Kau kejam sekali sich, HeeChan…”. Orang itu kembali memelukku dari belakang.
“Aish! Kau ini! Dasar cowok genit!!!”
“Coba ingat-ingat makanya!!”
“Beri aku sebuah petunjuk!!” pintaku.
“Dengan aku memanggilmu Hee Chan harusnya itu sudah menjadi sebuah petunjuk, bukan??”
Aku mengerutkan kening. Tidak mungkin orang ini adalah…
“Ah, lama sekali kau berpikir, sini mendekat, akan kubisikkan satu petunjuk lagi…” katanya.
Aku berjalan mendekatinya perlahan. “Cepat bisikkan!!” kataku tidak sabar.
Si genit lalu mendekatkan bibirnya ke telingaku dan CHU~. Bukannya membisikkan sesuatu dia malah mencium pipiku.
“Ya! Apa-apaan kau!!”
Cowok tadi hanya tersenyum. “Anggap saja itu hadiah untukmu dalam rangka pertemuan pertama kita setelah 12 tahun tidak bertemu…” katanya santai.
“Santai sekali bicaramu. Cih, hadiah macam apa itu?”
“Bilang saja kau sebenarnya suka, mau lagi?” katanya sambil mendekatkan bibirnya ke pipiku.
“HaHee!!!”
Baru saja aku mau menampar orang ganjen itu terdengar suara Soohwa onnie memanggilku.
“Onnie? Gak jadi rapat?”
Soohwa onnie menggeleng pelan.
“Rapatnya ditunda. Kau sendiri kenapa masih di sini?”
“Gara-gara cowok genit ini, ni…” kataku kesal sambil menoleh ke belakang. Hey, mana si genit? “Lo, mana dia? Hey! Genit! Di mana kau?” panggilku. Aku berjalan mondar-mandir mencoba mencari si genit. Terlihat Soohwa onnie hanya geleng-geleng melihatku begitu.
“Mungkin ini efek kecelakaan kemarin. Ayo, pulang…” kata Soohwa onnie sambil menarik tanganku.
“Aku yakin aku melihatnya tadi, onn…”
“Hmmm, lain kali saja kau ceritakan padaku. Ayo cepat pulang…” kata Soohwa onnie tegas dan kembali menarik tanganku.

**********

“HaHee! Cepat turun! Ada temanmu datang!!!”
Hah, siapa sich udah datang pagi-pagi begini. Padahal mumpung libur aku kan mau tidur-tiduran dulu. Dengan malas aku bangkit dari tempat tidur dan turun ke ruang tamu.
“Ya! Eunhyuk! Ada apa kau datang pagi-pagi begini?”
Eunhyuk membalikkan tubuhnya dan tersenyum lebar. “Baru bangun? Dasar pemalas…” ejeknya.
“Gak usah banyak bacot! Cepet aja bilang ngapain ke sini!!” kataku cepat.
“Aku butuh bantuanmu…”
“Bantuan apa?”
“Temani aku cari kado…” kata Eunhyuk malu-malu.
Perasaan ngantukku langsung hilang. Eunhyuk minta temenin cari kado? Wah, jangan-jangan dia udah punya cewek. Kecurigaanku kemarin salah donk.
“Oke, tunggu bentar. Aku mau mandi dulu…” kataku dan langsung melesat ke kamar mandi.

**********

“Nah, cepat katakan siapa cewek yang kau taksir Eunhyuk. Kapan ulangtahunnya?” tanyaku begitu kami masuk ke dalam mall.
“Cewek?” tanya Eunhyuk.
Aku mengangguk dan terus berjalan ke deretan dress lucu yang dipajang di etalase. Sayang uang jajanku bulan ini sudah habis.
“Memangnya tadi aku bilang kalau aku cari kado buat cewek ya?” tanya Eunhyuk pelan.
Aku berbalik menghadapnya dan mengernyit heran. “Jadi, kadonya bukan buat cewek?” tanyaku.
Eunhyuk menggeleng.
“Lalu buat siapa?”
“Donghae, besok kan dia ulang tahun…” jawab Eunhyuk singkat.
Mwo? Kalau begitu buat apa aku menemaninya tadi? Dasar! Dugaanku semakin kuat sekarang! Eunhyuk dan Donghae memang tidak normal alias penyuka sesama jenis.
“Kalau cuma buat Donghae ngapain kau minta temenin aku segala?” bentakku.
“Kau kan teman Donghae sejak SD, kau tau segalanya tentang Donghae. Kupikir kau bisa membantuku memilihkan kado yang tepat untuknya…” kata Eunhyuk pelan.
“Kamu kan temennya sejak sd juga….”
“Tapi kamu 1 bulan lebih dulu kenal dengannya…” kata Eunhyuk ngotot.
Aku menghela napas panjang. “Kau punya uang berapa?” tanyaku pada akhirnya.
Eunhyuk mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan semua isinya. Hah, hanya beberapa lembar uang ribuan. Mana cukup untuk beli hadiah spesial dasar payah.
“Uangmu tidak cukup…”
“Hah? Masa’?”
Eunhyuk memandangku dengan mata berkaca-kaca. Lebay banget. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.
“Kau harus menabung lagi…”
“Mana bisa? Ulang tahun Donghae kan besok…” gumam Eunhyuk.
Kasihan juga melihatnya menangis.
“Buat cake saja…” usulku.
“Cake?” ulang Eunhyuk.
“Uangmu cukup kok buat beli bahan-bahan cake…”
Eunhyuk mengangguk-angguk semangat. “Ayo, ayo cepat beli bahan-bahan cake…”
“Males, aku mau di sini saja, liat-liat dress lucu ini…” tolakku.
“Kau tega sekali, HaHee…”
Lagi-lagi mata Eunhyuk sudah berkaca-kaca. Akhirnya kuambil memo dari dalam tasku dan menulis bahan-bahannya. Biar dia yang cari sendiri nanti.
“Ini…” kataku sambil memberikan memo itu.
“Apa ini?”
“Bahan-bahan untuk membuat cake. Cari sendiri sana, biar aku tunggu di sini. Dan ini uang tambahan, takutnya uangmu kurang…” kataku dan dengan berat hati mengeluarkan seluruh isi dompetku.
“Aigo, gomawo, HaHee! Kau baik sekali…” seru Eunhyuk sambil memelukku. Jelas saja hal itu membuat orang-orang yang ada di sekitarku memandang ke arahku.
“Anak muda jaman sekarang, berani sekali memamerkan kemesraan di depan umum…” gumam seorang adjussi.
Huh, sungguh memalukan.
“Sudah, lepaskan pelukanmu…”
“Sekali lagi gomawo ya, HaHee. Aku mau beli bahan-bahan ini dulu. Jangan pulang duluan lo, kau harus mengajariku cara membuatnya nanti…” kata Eunhyuk sambil melepaskan pelukannya dan berlari pergi.
“Huh, merepotkan saja..” gumamku.
“Bogoshippoyo, HeeChan…”
Suara siapa lagi ini. Kutolehkan kepalaku dan…
“Ya! Genit! Sedang apa kau di sini?”
“Genit? Panggilan macam apa itu?” tanya si Genit gusar.
Aku meliriknya sekilas. “Salah sendiri kau tidak mau bilang siapa namamu, ya sudah, ku panggil saja genit…”
Genit memejamkan matanya sambil bergumam, “Tak kusangka kau benar-benar melupakanku Hee Chan, ingatanmu memang buruk…”. Sebuah senyuman lalu tersungging di wajahnya. “Ngomong-ngomong siapa cowok itu tadi? Pacarmu?”
“Hahahahahahaha….” tawaku meledak.
“Kau bilang gay tadi itu pacarku? Jangan sampe dech….”
“Memang pacarmu tidak marah kau jalan dengan cowok lain?” tanya genit lagi.
Aku tersenyum simpul. “Aku tidak punya pacar…”
Genit membelalakkan matanya. “Jinja?”
Aku mengangguk pelan. “Orang yang membuat nama panggilan HeeChan itulah yang membuatku tidak punya pacar sampai sekarang…”
Ups, keceplosan….
Saat kutolehkan kepalaku, terlihat genit sedang melirikku dengan lirikan jail. “Kau menyukai orang itu ya????”
“Bagaimana kalau sebenarnya orang itu aku?” tanya Genit lagi.
Aku menyipitkan mataku. “Tidak mungkin….” desisku.
“Wae?” kata Genit tidak mau kalah.
“Kelakuanmu jauh berbeda dengannya. Dia bukan orang sepertimu…” lanjutku dan bergegas berjalan meninggalkannya.
“Mungkin saja aku seperti ini karena permintaan seseorang…” katanya dan berusaha mensejajarkan langkahku.
“Seseorang?”
“Ne, mungkin saja aku berubah karena ada seseorang yang memintaku berubah seperti ini…”
“Heh? Mana ada orang yang menyuruh seseorang berubah jadi genit?” tanyaku dan mempercepat langkahku.
“Bagaimana kalau kubilang aku begini atas permintaan orang yang kucintai?” balas Genit.
Aku meliriknya tajam. “Orang yang kau cintai itu orang gila ya?”
“Hahahahaha……”
Bukannya menjawab, si Genit malah tertawa.
“Kau ini, sudah Genit, gila pula…”
“Kau benar-benar lucu, HeeChan…”
Apa lagi maksudnya? Aku tadi tidak mengatakan hal lucu bukan?
“Ya! Ha Hee! Aku sudah mendapatkan semua bahannya! Ayo pulang! Ajari aku cara membuat cake!!!” kata Eunhyuk yang tiba-tiba sudah ada di depanku.
“Eh, sejak kapan kau ada di sini?” tanyaku heran.
“Baru saja aku datang. Ayo cepat pulang!!!” kata Eunhyuk sambil menarik tanganku.
Kuarahkan pandanganku ke belakang. Mana si Genit? Kok udah gak ada sich? Bukannya dari tadi dia ada di belakangku? Cepet banget perginya. Sama kayak waktu di sekolah kemarin. Sebenarnya dia siapa?

**********

“Eomma, aku berangkat dulu ke acara ultahnya Donghae ya?” seruku sambil bergegas membuka pagar dan tak lupa menyambar kado yang ada di atas meja. Untung kemarin kemeja yang Appa beli kekecilan, jadi aku gak usah bingung-bingung lagi nyari kado buat Donghae. Uangku ludes buat nombokin Eunhyuk beli bahan-bahan buat cake. Waktu aku pulang dari rumah Eunhyuk sesudah ngajarin dia bikin cake juga toko-toko udah pada tutup.
Ketika kubuka pintu terlihat genit sedang berdiri membelakangiku.
“Genit? Sedang apa kau di sini?” tanyaku pelan.
Perlahan genit membalikkan badannya. OMO, wajahnya pucat sekali.
“Annyeong HeeChan! Bogoshippoyo…” kata genit sambil mencoba tersenyum.
“Ya! Apa kau tidak bisa mengucapkan kata-kata lain? Setiap kau bertemu denganku hanya kata-kata itu yang kau ucapkan! Bosen tau dengernya…” ucapku ketus.
Genit mencubit pipiku. “Mian kalau aku hanya bisa mengganggumu saja. Setelah ini aku janji aku tidak akan menganggumu lagi. Aku takut aku harus segera pergi. Satu hal yang ingin kukatakan, bogoshippoyo, HeeChan…”
“Tunggu! Kau tidak boleh pergi dulu!! Kau belum memberitahuku siapa kau sebenarnya!!!” seruku.
“Jeongmal mianhae, Hee Chan. Aku tidak punya banyak waktu sekarang. Suatu hari nanti kau pasti tau siapa aku..” kata Genit dan bersiap pergi.
“Ya!! Genit!! Tunggu!!”
“Ha Hee? Kenapa kau masih di sini? Bukannya kau bilang mau ke acaranya Donghae tadi? Sebentar lagi acaranya dimulai, lo…” kata Eomma mengejutkanku.
“Eh, tapi aku masih harus bicara dengan…”
“Dengan siapa? Tidak ada siapa-siapa kok…”
Aku memballik badanku. Ya, genit sudah tak terlihat.
“Sudah cepat pergi, nanti telat lo…” kata Eomma lagi.
“Ne, Eomma, anyyeong…”

**********

Selama pesta berlangsung pikiranku tertuju pada Genit. Mau kemana dia? Sebenarnya dia siapa? Tega-teganya dia pergi tanpa memberitahuku siapa dia sebenarnya.
“Ya! HaHee, apa pesta ku begitu membosankan?” tanya Donghae.
“Eh, aniyo, pestamu sangat keren kok…”
Jelaslah, gimana gak keren, pestanya diadain di hotel berbintang 5, tamu-tamunya selain teman sekelasku adalah cowok-cowok keren, ada Super Junior lagi. Heran, duit orangtuanya Donghae sebanyak apa sich?
Donghae mengerutkan keningnya.
“Kalau keren kenapa kamu dari tadi duduk di sini aja?”
“Aku cuma….”
“Ya! Donghae, ayo cepat ke sini! Kita foto-foto dulu, yuk….” panggil Eunhyuk
“Ne. Kuharap kau menikmati pestanya, HaHee. Aku ke sana dulu, ya…”
Aku hanya mengangguk.
“Mau kuantar pulang?”
“Ah, onnie….”
Soohwa onnie tersenyum dan mengulang pertanyaannya, “Mau kuantar pulang?”
“Tidak usah onnie…” kataku sambil mencoba tersenyum.
“Kau pasti sedang punya masalah sekarang…” kata Soohwa onnie sambil memakan cake yang ada di pangkuannya.
Aku menggeleng.
“Jangan berbohong! Kau lupa kita sudah berteman sejak SD, aku pasti tau kau sedang ada masalah sekarang…” gerutu Soohwa onnie sambil terus memakan cakenya.
“Oke, aku memang sedang punya masalah dan jujur, aku ingin pulang sekarang. Tapi, aku takut Donghae kecewa onn, nanti dia sangka aku pulang cepat karena pestanya yang payah, padahal kan dia sudah susah-susah merancang pesta ini jauh-jauh hari…” jelasku.
Soohwa onnie memasukkan potongan terakhir cakenya dan menatapku.
“Asal kau tahu, Donghae lah yang menyuruhku mengantarmu pulang. Daritadi aku, Donghae, dan Eunhyuk mengkhawatirkanmu. Kami yakin kau sedang ada masalah. Jadi ayo kalau mau pulang sekarang…”

**********

“Gomawo onn, sampaikan permintaan maafku ke Donghae ya…”
“Sep, tenang aja. Onnie balik dulu ya, anyyeong…”
“Annyeong….”
Kubuka pintu pagar rumah perlahan. Mobil siapa itu? Rasanya waktu aku berangkat tadi mobil itu belum ada dech, aku gak salah rumah kan?
Aku berjalan mundur dan memperhatikan rumahku. Benar ini rumahku, jadi mobil siapa itu?
Rasa penasaranku terjawab ketika melihat seorang ahjumma sedang duduk bersama Eomma dan Appa di ruang tamu.
“Aku pulang…”
Ahjumma itu langsung menatapku lekat-lekat dan berjalan ke arahku.
“Eh, ahjumma siapa?”
Tanpa menjawab pertanyaanku ahjumma itu langsung memeluk dan menangis di pelukanku.
“Eh, ahjumma kenapa?” tanyaku panik.
“Kau Han HaHee kan?” tanya ahjumma itu pelan.
“Ne, memang kenapa?”
“Syukurlah akhirnya aku menemukanmu…” kata ahjumma itu dan melepaskan pelukannya.
“Eh, sebenarnya ahjumma siapa?”
“Aku ibunya Cho Kyuhyun, apa kau masih mengingatnya?”
Cho Kyuhyun? Bagaimana aku bisa melupakannya? Tetangga dan teman akrabku sewaktu aku tinggal di Busan sekaligus cinta pertamaku. Bagaimana wajahnya sekarang ya?
“Tentu saja aku masih mengingatnya ahjumma, dimana dia sekarang?”
Cho ahjumma hanya tersenyum pahit.
“Aku akan menjemputmu sepulang sekolah besok untuk bertemu dengannya. Kyu sangat merindukanmu…”
“Aku juga ahjumma….”
“Sudah malam, aku pulang dulu, ya…”
“Ne, hati-hati di jalan, ahjumma…” seruku sambil mengantarnya ke depan gerbang.
Ah, aku lupa tanya, kenapa Cho ahjumma tadi nangis ya?
“Eomma…” panggiku saat Eomma mau masuk kamar.
“Ne?”
“Kenapa tadi Cho ahjumma nangis?” tanyaku.
“Kau akan mengetahuinya besok, HaHee. Sekarang lebih baik kau tidur saja, biar besok gak bangun kesiangan…”
Aku mengangguk dan berjalan ke kamarku. Ada apa sich sebenarnya?

**********

“HaHee, ayo pulang…” kata Soohwa onnie.
“Aku pulang sendiri saja hari ini, onnie. Ada sedikit urusan…” kataku sambil tersenyum.
“Oh,oke. Annyeong….”
“Annyeong…”
Begitu aku sampai di depan gerbang sekolah, terlihat Cho ahjumma sedang berdiri bersandar di mobilnya. Kenapa ahjumma kelihatan sedih sekali sich? Hah, ahjumma dan Kyu memang sama saja. Selalu murung.
“Ahjumma, sudah lama menungguku ya? Mian…”
“Oh, HaHee, aniyo, aku baru saja sampai. Mau berangkat sekarang?” tanya ahjumma dengan senyum yang dipaksakan.
Aku mengangguk semangat. Aku sudah kangen banget sama Kyu. Gak sabar dech pengen liat muka dia sekarang.
“Kau yakin sudah siap melihat keadaannya sekarang?” tanya Cho ahjumma lagi.
Aku memiringkan kepalaku, mencoba mencerna kata-kata Cho ahjumma. Memangnya bagaimana keadaan Kyu sekarang?
“Bagaimana? Yakin?” tanya Cho ahjumma lagi.
“Ne…” jawabku asal. Memangnya keadaan Kyu bagaimana sich? Kenapa ahjumma sampai harus tanya -tanya begini dulu.
“Kita sudah sampai. Ayo, turun…”
Rumah sakit? Kenapa berhenti di rumah sakit?
“Kyu ada di sini?” tanyaku.
Cho ahjumma hanya mengangguk dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit itu. Aku yang maasih bingung hanya bisa mengikutinya saja.
Tak lama, ahjumma berdiri di depan ruang ICU. Terlihat air mata mulai meluncur turun membasahi pipinya.
“Gwenchana, ahjumma?” tanyaku sambil berjalan mendekatinya.
Cho ahjumma hanya terdiam dan menatapku dalam-dalam. Lalu tatapannya beralih ke ranjang yang ada di dalam ruang ICU tersebut.
Seorang pemuda terlihat tergeletak di atas ranjang tersebut. Genit? Mataku terbelalak saat melihatnya. Ya, Genit lah yang sedang tertidur di situ.
“Itu Kyuhyun, HeeChan.” kaya Cho ahjumma akhirnya.
Aku hanya bisa terdiam mendengarnya. Kyuhyun? Si Genit itu Kyuhyun? Kenapa sifatnya berbeda sekali?
Cho ahjumma lalu menarik tanganku masuk dan duduk di samping ranjang Kyuhyun. Terlihat banyak perban yang membalut tubuhnya.
“Dia kenapa ahjumma?” tanyaku pelan.
“Tertabrak mobil saat hendak menolong seorang perempuan…”
DEG
“Kapan?”
“Sebulan yang lalu..”
“Dimana?”
“Di dekat rumahmu…”
Omona, Kyuhyun begini karena menolongku. Tidak ada lagi kecelakaan mobil di dekat rumahku selain kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku kemarin.
“Dia sangat senang saat aku memberitahunya aku akan memindahkan bisnisku ke Seoul. Dia selalu mengatakan dia sangat rindu denganmu dan sangat ingin bertemu denganmu. Begitu kami sampai di Seoul, dia langsung menghubungi teman-teman akrab mu saat di TK dan menanyakan alamatmu ke mereka. Tak kusangka sebelum dia bisa menemuimu dia malah harus mengalami hal ini. Keadaanya semakin lama makin memburuk saja…”.
Air mata cho ahjumma makin deras membasahi pipinya. Kurasa air mataku juga akan tumpah sebentar lagi.
“Saya pamit dulu, ahjumma. Besok saya pasti akan datang lagi, anyyeong…” kataku dan segera berbalik meninggalkan cho ahjumma dan Kyuhyun.

**********

“Aku pulang…”
“HaHee…”
“Aku mau ke kamar dulu, Eomma, aku capek sekali…” kataku sambil mencoba tersenyum.
Eomma hanya mengangguk dan membalas senyumku. Aku yakin Eomma sudah mengetahui keadaan Kyuhyun.
Segera kunaiki tangga menuju kamarku dan meghempaskan tubuhku ke kasur.
Kalau selama sebulan ini Kyuhyun terbaring di ICU, siapa yang selalu datang dan memelukku sambil mengatakan dia rindu padaku.
HaHee babo!!! Bisa-bisanya kau melupakan Kyuhyun dan tak mengenali wajahnya!! Kyuhyun saja masih bisa mengingat dan mengenal wajahmu!! HaHee babo!!!!!

**********

“Annyeonghaseo, ahjumma…”
Cho ahjumma yang sedari tadi tertidur di samping ranjang Kyuhyun langsung terbangun dan tersenyum menyambutku.
“Anyyeonghaseo, HaHee…”
“Bagaimana keadaan Kyu?”
Cho ahjumma melirik Kyu sekilas, “Tidak lebih baik dari kemarin…” katanya sambil mencoba tersenyum.
“Oh iya, hampir saja aku lupa, ini…” kata cho ahjumma sambil memberikan sebuah pin dengan gambar lingkaran kuning dengan mata dan mulut yang sedang tersenyum :D

FLASHBACK

“Kyunnie, ternyata kau ada di sini, aku capek tau mencarimu dari tadi…” omelku.
Kyu mendongakkan kepalanya dan menatapku.
“Kyunnie!! Kan sudah kubilang jangan menangis terus!! Appamu tidak akan tenang di alam sana kalau kau menangis terus…” kataku sambil duduk di sampingnya dan menghapus airmatanya dengan tanganku.
“HeeChan babo!! Aku bukan menangisi Appaku sekarang…”.
Kyu menepis tanganku.
“Terus apa donk?”
“Kau mau pindah ke Seoul kan?
“Kau tau darimana?”
“Benar kan?”
Aku mengangguk kecil, “Appaku dipindah tugaskan ke Seoul…”
Kyu mulai menangis. Hal inilah yang kubenci dari dirinya. Dia laki-laki tapi cengeng.
“Ya Kyunnie!! Jangan berlebihan seperti itu ah! Jarak Seoul-Busan itu tidak terlalu jauh…”
“Apa kau tega meninggalkan aku senidirian di sini?” tanya Kyu lagi.
“Tentu saja aku tega..” kataku dingin.
“Aku kan tidak punya teman selain kamu!!!”
“Alasan konyol! Asal kau tau, banyak orang yang mau berteman denganmu! Hanya saja kau yang selalu menutup diri!!”
Kyu hanya menunduk. Ya tuhan, sampai kapan dia mau begini terus.
Kulepas pin dari topiku dan memberikannya ke Kyu. “Ini, ambillah!”
Kyu mengambilnya dan menatapku dengan tatapan heran.
“Apa ini?”
“Ingat! Aku hanya meminjamkannya padamu dan kau harus berjanji akan mengembalikannya padaku suatu saat nanti kalau kita bertemu lagi!!”
“Daripada susah-susah lebih baik kukembalikan sekarang saja…” kata Kyu dan mengembalikan pin itu padaku.
“Kau baru boleh mengembalikan pin itu padaku dan menemuiku jika kau sudah bisa selalu tersenyum dan ceria seperti gambar wajah di pin itu!!” tolakku tegas.
Kyu membelalakkan matanya, “Kau cuma bercanda kan, HeeChan?”
Aku menggeleng tegas, “Aku serius, Kyu! Jangan pernah temui aku kalau kau belum bisa merubah sifat cengengmu itu!!”

END OF FLASHBACK

“Kyu memintaku untuk mengembalikannya padamu sebelum dia koma…” kata Cho Ahjumma.
Aku mengambilnya dan tanpa terasa air mata mulai memenuhi mataku.
“Aku keluar dulu, ya…” kata Cho ahjumma lagi.
Aku mengangguk kecil dan duduk di kursi yang tadi diduduki Cho Ahjumma. Perlahan aku menggenggam tangan Kyu.
“Mian Kyu, aku melupakanmu. Jeongmal mianhae…”
Tidak ada jawaban. Apa Kyu bisa mendengarku?
“Kyu, ayo bangun, jangan tidur terus, ayo kita main. Kita main seperti dulu…”
“Kyu, bangunlah, jebal….”
Air mataku mulai turun. Omo, kau harus bangun Kyu. Jangan pergi dulu…
“Saranghae…..” bisikku dan menundukkan kepalaku. Airmata benar-benar sudah membanjiri wajahku sekarang.
“Nado saranghae…”
Aku mengangkat kepalaku. Bisikan siapa itu? Atau aku hanya bermimpi???
Samar-samar terlihat Kyu yang sedang mencoba membuka matanya. “Nado saranghae, HeeChan…” kata Kyu sambil tersenyum.
Aku menutup mulutku dan memandangnya dengan tatapan tidak percaya.
“Kau tunggu disini dulu, jangan kemana-mana…” kataku.
Kyu hanya tersenyum, “Memangnya dengan keadaan seperti ini aku bisa jalan-jalan?” tanyanya.
Tanpa menghiraukan kata-kata Kyu aku langsung keluar dan memanggil Cho ahjumma.

**********

“Annyeong….”
“Kau telat sepuluh menit!!” kata Kyu dari balik bukunya.
“Cuma sepuluh menit…” kataku sambil memamerkan senyum termanisku berharap Kyu bisa memaafkanku.
Kyu menurunkan bukunya dan menatapku kesal. “Tetap saja telat…”
Aku hanya bisa menghela napas panjang. “Oke, mian….”
“Hanya itu saja?” tanya Kyu sambil mengangkat satu alisnya.
“Kau mau aku bilang apa lagi?”
Kyu tampak berpikir sejenak dan mengeluarkan evil smile nya. “Traktir es krim…”
“Aniyo…” tolakku. “Uang jajanku bulan ini sudah menipis…”
“Kalau begitu kencan kita hari ini batal…” kata Kyu dan beranjak pergi.
Aku hanya bisa menganga. Bisa-bisanya aku berpacaran dengan cowok sepertinya. “Ya! Jeongmal mianhae Cho Kyuhyun. Jangan ngambek begitu, donk…” teriakku.
Kyuhyun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku dengan senyum evilnya. “Traktir es krim ya???”
Aku mengangguk pasrah. Habislah uang jajanku bulan ini. Tuhan, kenapa Kyu bisa jadi orang seperti ini? Rasanya lebih baik dia cengeng daripada jail begini. Salahku dulu menyuruhnya tidak cengeng. Kenapa juga aku bisa jadi pacarnya. Huh…
“Ayo berangkat, jagi…” kata Kyu sambil menarik tanganku.
Dasar, kalau kemauannya sudah dituruti, baru dia baik lagi…

**********

“Adjussi aku pesan tiga scoop es krim coklat, pakai semua topping yang ada di sini, biar nona ini yang bayar…” kata Kyu pada adjussi penjual es krim langganan kami.
“Kau mau pesan apa?” tanya Kyu.
Aku menggeleng lemah. Dengan es krim pesanannya tadi aku yakin uang di dompetku akan langsung ludes.
“Ya sudah, aku tidak mau membagi es krim ku nanti, lo…” kata Kyu dengan santainya.
“Aku tau, kau memang pelit…” balasku.
“Silakan dinikmati tuan…” kata salah seorang pelayan sambil meletakkan es krim pesanan Kyu di atas meja.
“Aku makan duluan ya…” kata Kyu dan dalam sekejap dia sudah makan dengan lahapnya.
“Kyu…” panggilku pelan.
“Hmm?”
“Waktu kau koma, bagaimana kau bisa menemuiku?”. Pertanyaan inilah yang selalu ada di bayanganku.
Kyu menghentikan kegiatannya sebentar dan berpikir. “Molla, selama koma aku hanya tidur sebenarnya walaupun masih bisa mendengar suara orang-orang di sekitarku, aku tidak bisa membuka mata, mulut, ataupun bergerak. Aku merasa mungkin sebentar lagi bidadari maut akan menjemputku…”
“Bidadari maut? Apa-apaan itu?” potongku.
“Aku tidak suka mengatakan malaikat maut, gambarannya pasti orang bertudung hitam menyeramkan. Lebih baik bidadari maut, wanita seksi dengan pakaian hitam serba ketat dan senyuman menggoda…”
“Sudah hentikan! Lanjutkan ceritamu..”.
Kyu mengerutkan keningnya. Mungkin dia tidak suka khayalan gilanya kuganggu.
“Sebenarnya aku belum mau bidadari maut menjemputku. Aku masih ingin bertemu denganmu dulu. Aku sangat merindukanmu. Kau tau bagaimana perasaanku saat Eomma memutuskan untuk pindah ke sini? Senang sekali. Tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata…”
“Lebay…” potongku lagi sambil mencomot es krimnya.
“Bisa tidak kau berhenti memotong kata-kataku?” geram Kyu.
“Langsung saja jawab pertanyaanku. Bagaimana kau bisa menemuiku waktu kau koma!!”
“Kau tau? Saat itu aku berpikir kalau aku mimpi. Karena aku sendiri tidak sadar dan tidak tau kenapa rohku bisa pergi menemuimu…” jawab Kyu singkat.
Aku hanya manggut-manggut.
“Mungkin karena aku terlalu rindu dan terlalu cinta padamu…” kata Kyu sambil tersenyum.
Tak pelak, wajahku memerah dibuatnya. “Gombal…” kataku sambil memalingkan wajahku.
Kyu menarik wajahku sehingga pandangan kami bertemu. “Aku serius, HeeChan…”
“Kalau begitu, bagi sedikit es krimmu untukku…” kataku sambil mengeluarkan evil smile andalan ku.
Kyu memajukan bibirnya beberapa centi. “Shireo. Aku sudah satu bulan lebih koma dan tidak bisa makan es krim. Tega-teganya kau mau mengambil es krim ini…”
“Kau ini! Sepertinya lebih cinta es krim ya daripada aku???” kataku dengan nada tinggi.
Wajah Kyu tiba-tiba memucat. “Kau marah ya, HeeChan? Jeongmal saranghae, tentu saja aku lebih mencintaimu daripada es krim ini…” kata Kyu pelan.
“Mana buktinya?”
Dengan berat hati Kyu mendorong mangkuk es krimnya yang masih berisi satu setengah coop es krim coklat.
Dengan senang hati kutarik mangkuk itu dan mulai memakan isinya. Kuambil sesendok dan memamerkannya ke Kyu yang sedari tadi memandang es krim itu. “Mau?” tanyaku dengan nada dingin.
“Aniyo, buat kau saja semuanya..” jawab Kyu lemah.
Aku tersenyum penuh kemenangan dan melahap es krim itu sampai titik es krim penghabisan. “Hmmmm….”
“Enak?” tanya Kyu sambil menelan ludahnya.
Aku hanya mengangguk dengan masih menampilkan ekspresi marah.
“Kau masih marah HeeChan?”
“…..”
“Ya! Jeongmal mianhae, HeeChan…”
“Hahahahah…..”. Aku tidak bisa menahan tawaku lagi. “Memangnya siapa yang marah?”
Kyu hanya menatapku bingung.
“Aku hanya bercanda, Kyunie…Kau kalah…Gomawo buat es krimnya…” kataku sambil beranjak dan pergi dari kedai es krim tempatku dan Kyu makan tadi.
“Ya! Tega sekali kau Han HaHee!!!” kata Kyu sambil mengejarku. “Kau….”
Kata-kata Kyu terpotong saat aku mengecup bibirnya pelan. “Jangan marah donk, jagi. Jadi jelek mukanya. Lagipula anggap saja itu salah satu bukti cintamu padaku…” kataku sambil tersenyum manis.
Wajah Kyu mulai memerah. “Apa pengorbananku saat menolongmu dari tabrakan truk itu masih kurang?”
Aku terdiam sesaat. “Eh…”
“Kau bilang itu masih kurang hah? Aku hampir mati gara-gara hal itu, tau?” kata Kyu serius.
Aku hanya menundukkan wajahku tidak berani menatapnya.
“Angkat wajahmu! Lihat aku Heechan!!” bentak Kyu.
Aku masih menunduk dan memejamkan mataku tidak berani memandangnya.
Kyu mengangkat daguku. Dengan takut kubuka mataku perlahan. Bukannya wajah marah, malah terlihat wajah Kyu memeletkan lidahnya di hadapanku sekarang. Apa-apaan ini?
“Satu sama. Kau tertipu…” seru Kyu. “Hahahahahaha…” tawanya meledak.
“Dasar…” umpatku.
“Jangan ngambek donk, jagi. Kalo ngambek aku kasih Ppoppo lo…” kata Kyu sambil mengerling nakal.
“Sejak kapan sich kau jadi genit begini?” tanyaku.
“Genit? Memangnya aku genit? Seingatku aku begini karena kau yang menyuruhku…” kata Kyu sambil berusaha mengingat-ingat.
“Aku hanya menyuruhmu tidak cengeng ingat? Bukannya menjadi genit begini…” kataku sambil menjitak kepalanya dan berjalan mendahuluinya.
Kyu mengejarku sambil mengelus-elus kepalanya. “Jahat sekali kau, jagi. Biar genit begini yang penting ada yang suka…”
“Siapa?”
“Han HaHee…” katanya dengan senyum evilnya.
“Nggak lucu…”
“Ya! HeeChan!! Tunggu!! Jangan ngambek jagi!! Saranghae…” teriak Kyu.
“Masa bodo…” balasku.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.